"Dalam pergerakan roda ekonomi saja kan sekarang masih tergantung pada Surabaya, karena di Madura tidak ada pusat perkulakan untuk mendistribusikan barang-barang dagangannya," kata H Muhamad Rifai, pengusaha besi tua di kawasan Klender, Jakarta Timur saat ditemui detik.com.
Alasan geografis dan budaya, bahwa Madura merupakan pulau tersendiri dan secara budaya beda dengan Jawa, ia berpendapat, tak sepenuhnya benar. Sebab jika dikaji secara lebih cermat, kandungan kapur di Gresik dan Madura itu sama. Hal ini menunjukkan Madura itu pada waktu di masa lampau merupakan satu kesatuan. "Ini yang sering dilupakan atau dikesampingkan," kata Rifai.
Dari pada menggulirkan wacana pembentukan provinsi, ia melanjutkan, lebih baik semua elemen masyarakat Madura secara kreatif memikirkan bagaimana membangun dan memperbaiki kondisi saat ini. Begitu pun dengan alokasi anggaran pembangunan dari pemerintah pusat yang disalurkan untuk Madura, perlu dikaji secara mendalam apakah sudah tepat sasaran.
"Cobalah kita jujur dan objektif, bagaimana Madura akan menghidupi dirinya jika menjadi provinsi sendiri jika kondisinya masih seperti sekarang ini," lelaki kelahiran Bangkalan, 1972 itu menegaskan.
Memaksakan diri mendirikan provinsi, Rifai menilai akan sangat memberatkan. Sebab sumber-sumber dana pembangunan yang masih amat terbatas dikhawatirkan akan habis untuk belanja dan operasional pemerintahan. Sementara pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat tetap akan terabaikan.
"Jadi provinsi itu artinya harus bikin infrastruktur gubernur, kepolisian, tentara, jaksa, hakim, dan lain-lain. Itu semua dananya darimana?" kata Rifai.
Kalau pun saat ini diketahui ada sumber minyak di bumi Madura yang sudah dieksplorasi, ia melanjutkan, sebetulnya jumlah tak sebanyak seperti di daerah lain.
Menurut Rifai, pemerintah pusat maupun Jawa Timur perlu memprioritaskan pembangunan pertanian dan perkebunan di Madura. Mengingat kondisi alamnya yang khas, kata dia, tentu saja perlu dipilihkan benih tanaman yang cocok dan punya daya hidup tinggi di tanah Madura yang kering. Begitu pun dengan saluran irigasi, dan para penyuluh pertanian agar masyarakat yang sudah lama berpaling dari pertanian mau kembali.
"Kebanyakan masyarakat sekarang ini seperti mati suri, tak punya kreativitas dan kehilangan semangat kerja keras untuk bisa survive. Kebanyakan sudah merasa nyaman dengan uang kiriman dari anak-cucu yang bertebaran bekerja di luar Madura," kata Rifai.
Khusus kepada orang-orang Madura yang tergolong sukses di Jakarta maupun kota-kota lainnya, sarjana Administrasi Negara lulusan Universitas Krisnadwipayana itu berharap agar bersatu-padu mencarikan solusi terbaik untuk membangun tanah kelahirannya. "Selama ini sudah ada yang membangun kampung halamannya tapi masih individual dan belum terkonsep dengan baik," ujarnya.
(jat/erd)











































