Para delegasi yang tergabung dalam Komite Kebudayaan dan Penerangan (Committe on Culture and Information) ASEAN itu belajar sejarah kerajaan Majapahit dan cara melestarikan situs cagar budaya.
Lokasi pertama yang dikunjungi delegasi Komite Kebudayaan ASEAN itu adalah Museum Majapahit Trowulan. Dipandu petugas museum, mereka melihat satu per satu koleksi benda cagar budaya peninggalan Kerajaan Majapahit. Mulai dari gerabah, arca, hingga prasasti.
Advisor of Ministry of Information Kamboja, Has Sam yang ikut dalam rombongan mengaku terkesan dengan koleksi benda cagar budaya di Museum Majapahit. "Unik sekali museumnya, saya sering ke Indonesia, namun ini yang paling manarik, saya senang sekali dapat disini," ujarnya dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan staf museum.
Sementara Kasubbag Kerjasama Sekretariat Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbud, Yayuk Sri Budi Rahayu menjelaskan, kunjungan ke bekas kota Majapahit kali ini merupakan rangkaian kegiatan dalam acara pertemuan tahunan Komite Kebudayaan dan Penerangan (COCI) ASEAN yang ke 50, 8-12 November 2015. Tahun ini, Indonesia mendapat giliran menjadi tuan rumah pertemuan tersebut yang ditempatkan di Hotel Mojopahit, Surabaya.
"Tujuannya mempererat hubungan antar negara anggota ASEAN. Selain itu juga sharing informasi dan pengetahuan, berbagi pengalaman bagaimana pengelolaan situs cagar budaya," kata Yayuk yang mendampingi para delegasi Komite Kebudayaan ASEAN.
Selain berkunjung ke Museum Majapahit, lanjut Yayuk, para delegasi Komite Kebudayaan perhimpunan negara-negara Asia Tenggara itu juga akan berkunjung ke beberapa situs purbakala lainnya di Trowulan. Antara lain, Candi Tikus, Candi Bajangratu, Candi Brahu, serta kampung Majapahit di Desa Bejijong.
Lantas mengapa memilih Majapahit?
"Dalam sejarah, kerajaan Majapahit melingkupi seluruh wilayah negara ASEAN. Orang Asia Tenggara harus tahu kerajaan ini," ungkapnya.
Namun demikian, menurut Yayuk, Indonesia juga perlu belajar banyak dari negara tetangga seperti Singapura, khusunya terkait pengelolaan museum. "Sistem informasi di museum harus di tingkatkan, sistem keamanan, SDM. Kalau di luar negeri kita kalah jauh dengan museum di Singapura, teknologinya luar biasa, informasi sudah digital," tegasnya.
Komite Kebudayaan dan Penerangan merupakan satu dari empat komite ASEAN di bidang non ekonomi. Komite ini bertanggungjawab langsung kepada Standing Committe. Sementara Standing Committe sendiri bertugas membuat keputusan dan menjalankan tugas-tugas ASEAN di antara 2 sidang tahunan para menteri luar negeri. (bdh/fat)











































