Tapi polisi satu ini melakukannya. Adalah Brigadir Futo yang berusaha memberantas buta huruf di Trenggalek. Anggota Polsek Kampak, Polres Trenggalek ini secara rutin mengajar warga yang buta huruf. Kegiatan itu dilakukan secara sukarela.
Warga yang diajar Futo adalah warga Dusun tulang, Desa Karangrejo, Kecamatan Kampak. Dan kebetulan Futo adalah Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Desa Karangrejo.
"Saya tergerak dan tak rela melihat masih ada warga yang belum bisa baca tulis," kata Futo kepada detikcom, Selasa (10/11/2015).
Niat mulia Futo mendapat dukungan dari Pranti Handayani (37), seorang guru TK. Pranti pun menyilahkan Futo menggunakan rumahnya yang kosong untuk dijadikan kelas. Pranti juga bersedia membantu mengajar besama. Futo kemudian membentuk kelompok belajar dan mengundang siapa saja yang tidak bisa baca tulis agar datang dan belajar bersama.
Undangan Futo bersambut. Namun hanya lima orang Dusun Tulang yang merespon. Mereka adalah warga yang sudah masuk dalam kategori lajut usia (lansia). Mereka adalah Marli (57), Paitun (64), Paisah (62), Laminem (65), dan Wagimah (70). Namun Futo tak peduli. Tekadnya sudah bulat, berapapun pesertanya, ia tetap melanjutkan niatnya.
Jadilah mereka belajar bersama. Namun jangan sangka tempat dan sarana belajar mereka seperti tempat belajar kebanyakan yang resmi. Tak ada meja dan kursi. Mereka belajar secara lesehan, duduk di lantai. Dan tak ada papan tulis atau white board yang menempel di dinding.
Bintara Polri ulusan gelombang I tahun 2004 iniĀ memang menggunakan white board, tetapi dia mengunakannya dengan meletakkanya di atas kursi. Sambil memegangi white board, Futo menulis apa yang diajarkannya di atas white board. Para 'siswa' pun menulis menggunakan pensil di atas buku yang sudah diberikan ke mereka.
"Saya tidak langsung kasih pelajaran mengenal huruf. Saya mengajarkan bentuk garis dulu. Kalau untuk menulis, tangan mereka masih kaku. Harus pelan-pelan dulu," ujar Futo.
Futo mengaku, kegiatan memberantas buta huruf ini belum lama dilakukannya. Dia memulainya pada pertengahan Oktober 2015 lalu. Jadwal belajar bagi 'siswa' buta huruf ini adalah seminggu dua kali, pukul 14.00-15.00 WIB.
"Semoga kegiatan ini bisa getok tular, merambat ke yang lain, agar yang lain bisa ikut," tandas Futo.
Kapolres Trengalek AKBP Made Agus Prastya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Futo. Kegiatan yang digagas Futo adalah kegiatan mulia yang seharusnya Bhabinkamtibmas yang lain bisa menirunya.
"Yang bersangkutan (Futo) memang dikenal sangat aktif dan care, terutama pada kelompok marjinal. Bhabinkamtibmas lain bisa meniru apa yang dilakukan yang bersangkutan," ujar Made Agus. Di Hari Pahlawan ini, Brigadir Futo Parietal seakan menjadi pahlawan bagi anak didiknya. (iwd/fat)











































