Anggota Sat-intelkam bernama Arvin tersebut dilempari dan dihujani pukulan oleh para siswa. Usaha sejumlah petugas lain untuk melerai tak juga digubris. Ratusan siswa justru semakin liar meluncurkan bogem mentah dan tendangan kearah Polisi tersebut.
Tak ingin terus menjadi sasak hidup, Polisi yang berseragam preman tersebut langsung lari tunggang langgang. Seperti sudah kerasukan setan, para siswa terus mengejar sambil terus melempari oknum Polisi tersebut. Keberingasan siswa SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi, baru berhenti setelah petugas itu masuk ke salah satu kantor Pemerintahan.
Menurut siswa, aksi brutal tersebut dipicu pemukulan oknum Polisi kepada para siswa yang sedang demo menolak kepemimpinan ketua Yayasan PERPENAS yang baru, Sugihartoyo.
"Lha teman kita dipukul, jadi kita tidak terima dong," ucap salah satu siswa.
Dari keterangan para siswa juga terungkap, pengerahan massa pelajar ini diduga perintah dari Kepala Sekolah, Suhartono. Namun saat dikonfirmasi, kepala sekolah membantah telah menggerakkan massa para siswa.
"Itu tidak benar, kami tidak pernah memerintah siswa untuk bergerak," katanya.
Aksi anarkis siswa SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi, ini dipicu konflik kepemimpinan Yayasan PERPENAS 17 Agustus 1945 Banyuwangi yang masih sengketa. Kedua belah pihak, yakni kubu Sugihartoyo dan kubu Warijan, yang merupakan pimpinan yayasan Incumben, saling klaim dan merasa paling benar.
Sugihartoyo, merasa telah sah menjadi pimpinan yayasan yang menaungi Kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi dan seluruh sekolah berlabel 17 Agustus 1945 se Banyuwangi, karena telah mendapat dukungan tiga dari lima pengurus yayasan. Sedang Warijan tetap ngotot, dengan dalih pemilihan ketua yayasan belum final karena masih deadlock.
Konflik kian memanas saat Sugihartoyo beserta kroni mendatangi kantor PERPENAS, untuk menyerahkan akta kepengurusan yayasan yang baru, Senin (9/11/2015). Di situ tertulis bahwa dia telah sah menjadi pimpinan.
Tak terima dengan keberadaan akta tersebut, diduga kubu Warijan, melalui Kepala sekolah SMA 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Suhartono, mengerahkan seluruh siswa untuk mengusir kelompok Sugihartoyo dari lokasi kantor. (fat/fat)











































