"Tidak ada yang namanya penyalahgunaan atau korupsi. Saya selaku penanggung jawab persoalan ini, tidak ada (korupsi) dan untuk hal-hal lain juga tidak ada ," kata Direktur Utama PDAM Gresik Muhammad kepada wartawan di kantor PDAM Gresik di Perumahan Graha Bunder Asri, Kamis (5/11/2015).
Muhammad mencoba menjawab dugaan korupsi seperti yang dituduhkan Chris Hadi Susanto. Muhammad mengatakan bahwa kapasitas produksi PDAM Gresik pada tahun 2011 adalah 762 liter per detik. Padahal pada tahun 2015, diperkirakan kapasitas tersebut bertambah menjadi 1.132 liter per detik. Karena itu PDAM Gresik mengadakan kerjasama dengan swasta.
Dua perusahaan swasta yang diajak kerjasama adalah PT Dewata Bangun Tirta (DBT) dan PT Drupadi Agung Lestari (DAL). Kerjasama dengan PT DBT ditandatangani pada 25 Mei 2012 dengan kapasitas 200 liter per detik. Sementara kerjasama dengan PT DAL dilakukan pada 1 Oktober 2012 dengan kapasitas 400 liter per detik.
"Kerjasama ini murni dibiayai oleh swasta, tidak ada dana APBD yang dikucurkan," ujar Muhammad.
Hal itulah yang akhirnya membuat PDAM membeli air dari PT DBT senilai Rp 2.400 per meter kubik. Harga itu memang jauh lebih mahal dari air yang diproduksi PDAM sendiri yang senilai Rp 1.257 per meter kubik. Untuk harga yang lebih mahal, Muhammad punya alasannya.
"Harga air yang diproduksi PDAM lebih murah karena kami membayar hanya untuk biaya operasionalnya saja seperti biaya tawas, kaporit, listrik, pegawai, dan lain-lain," terang Muhammad.
Sementara jika membeli di PT DBT, selain membayar untuk biaya operasional, juga membayar untuk biaya investasi yang dikucurkan PT DBT untuk proyek instalasi pengolahan air tersebut. Muhammad membenarkan jika PT DBT menginvestasikan Rp 46 miliar untuk proyek tersebut.
PT DBT dan PDAM Gresik juga mempunyai perjanjian konsensi selama 25 tahun. Jika sudah mencapai 25 tahun, maka proyek tersebut diserahkan ke Pemkab Gresik dalam hal ini adalah PDAM Gresik. Harga pembelian air ke PT DBT tidak fixed, melainkan ada kenaikan mengikuti inflasi.
"Kenaikannya ikut inflasi. Naik sekali, asalnya Rp 2.400, sekarang jadi Rp 2.500," jelas Muhammad.
Mengenai pematian air produksi PDAM sebesar 100 liter per detik, Muhammad mengatakan bahwa PDAM mempunyai rencana jangka panjang. Kapasitas yang dimatikan tersebut rencananya akan disalurkan ke lokasi-lokasi yang belum terjamah PDAM Gresik. Akan dibangun jaringan perpipaan yang menuju ke arah lokasi itu dengan menunggu dana dari pemerintah pusat.
"Kami menunggu APBN turun. Dan sudah turun tahun ini. Jaringan pipa sudah dibangun September kemarin, tiga bulan direncakan selesai dan 100 liter per detik itu siap dialirkan. Sebenarnya tidak 100 liter per detik, tetapi 70 liter per detik. Yang 30 liter per detik untuk keadaan darurat seperti penyaluran dengan tangki, permintaan untuk daerah kering," kata pria berkaca mata tersebut.
Mengenai tudingan belum rampungnya proyek PT DAL, Muhammad menegaskan bahwa proyek tersebut sudah jadi. Dan PDAM akan membeli air dari PT DAL dengan harga Rp 1.925 per meter kubik. Namun meski proyek sudah jadi, PT DAL memang belum beroperasi.
Kendala proyek PT DAL adalah belum siapnya warga masyarakat untuk berswadaya menyiapkan dana pemasangan pipa tersier. PDAM hanya menyediakan pipa induk, sementara pipa tersier berasal dari dana swadaya masyarakat. Itulah sebabnya air yang diproduksi PT DAL belum dapat dialirkan. PT DAL sendiri rencananya akan mengalirkan air ke wilayah Menganti-
Kedamean-Benjeng-Balong Panggang-Driyorejo-sebagian Cerme.
"Jika kami dilaporkan ke KPK, kami siap. Silakan saja. Kami juga siap menerima panggilan. PDAM Gresik juga siap diaudit," tegas Muhammad.
Muhammad sedikit menyinggun tentang Chris Hadi Susanto dan Zaki Zulkarnain yang telah melaporkan PDAM ke KPK. Muhammad membenarkan jika mereka memang pernah menjabat sebagai Direktur Teknik dan Direktur Utama PDAM Gresik. Tetapi mereka bukanlah pegawai murni PDAM Gresik. Mereka berdua masuk ke PDAM tahun 2011. Setelah menjalani fit dan proper test, mereka mulai bekerja.
"Mereka orang luar. Setelah menjalani fit dan proper test, mereka masuk," tukas Muhammad.
Korupsi yang dituduhkan menurut Muhammad tidak berdasar. Karena sejak bekerjasama dengan swasta, kondisi PDAM Gresik justru lebih bagus dibanding sebelum kerjasama. PDAM Gresik tidak pernah rugi lagi, bahkan untung. Sebelumnya, PDAM Gresik selalu merugi Rp 7-8 miliar per tahun. Sekarang, PDAM Gresik untung Rp 5 miliar (2015) dan Rp 9 miliar (2015).
Dari sisi audit, ujar Muhammad, PDAM Gresik juga mengalami peningkatan. Dari hasil audit oleh BPKP dan tim audit swasta, PDAM sebelumnya mendapat penilaian C sebelum adanya kerjasama. Sekarang PDAM setelah adanya kerjasama dengan swasta.
Muhammad menambahkan, kapasitas PDAM Gresik hingga tahun 2019 diperkirakan meningkat hingga 3.785 liter per detik. Itu berrati PDAM Gresik masih membutuhkan tambahan kapasitas sebesar 1.653 liter per detik sampai dengan tahun 2019. Dan untuk penambahan kapasitas itu, PDAM Gresik kembali akan melakukan kerjasama dengan swasta dengan pemanfaatan air baku dari
Sungai Bengawan Solo di Bendung Gerak Sembayat dan pemanfaatan air curah Umbulan.
"Pelanggan kami saat ini sudah 82.500 pelanggan. Daftar tunggu yang sudah diproses ada 1.500 an. Sementara yang mengajukan tapi belum diproses ada 6 ribu an," tandas Muhammad. (iwd/fat)











































