Koordintaor kirab HSN Kabupaten Pamekasan, Muhammad Madzkur menjelaskan, seluruh persiapan pawai peringatan HSN telah paripurna. Termasuk meminta pengawalan polisi yang menerjunkan 1 kompi anggotanya.
"Sebagai tempat puncak acara, kami mendirikan panggung untuk acara doa bersama dan istighosah. Doa bersama agar Indonesia dijauhkan dari bencana. Termasuk dijauhkan bencana asap yang sampai saat ini masih berlangsung di Sumatera, Kalimantan dan bahkan mulai menyebar ke Sulawesi dan Papua," jelas Madzkur.
Menurut Madzkur, pawai santri itu tak hanya diikuti kalangan santri dan santriwati saja. Namun seluruh kia pengasuh pesantren beserta pengurus NU Pamekasan ikut berjalan kaki pawai keliling kota. Rute yang dilewati kirab, mulai dari depan Masjid Agung Assyuhada, ke arah Jl. Diponegoro, Jl. R Abdul Aziz, Jl. Trunojoyo dan finish kembali lagi ke monumen Arek Lancor.
Selama pawai keliling kota Pamekasan, sejumlah santri terlihat membawa beberapa poster bertuliskan perjuangan santri saat kemedekaan dulu. Seperti poster bertuliskan: "Jangan Lupakan Sejarah Pesantren Adalah Basis Perjuangan Mengusir Penjajah","Jangan Pernah Lupakan Nasionalisme Pada Santri", "Sebelum Indonesia Merdeka Santri Sudah Ada Mengusir Penjajah".
"Kami para santri di Kabupaten Pamekasan menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Jokowi yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang kami peringati untuk pertama kalinya pada hari ini. Semoga peringatan tahun-tahun selanjutnya bisa memberikan manfaat lebih bagi kehidupan para santri," harapnya. (fat/fat)











































