Banyak Atribut Hilang, Tim Kampanye 2 Calon Desak KPU Segera Ganti

Pilwalkot Surabaya

Banyak Atribut Hilang, Tim Kampanye 2 Calon Desak KPU Segera Ganti

Zainal Effendi - detikNews
Selasa, 20 Okt 2015 19:49 WIB
Banyak Atribut Hilang, Tim Kampanye 2 Calon Desak KPU Segera Ganti
Foto: Zainal Effendi/detikcom
Surabaya - Atribut kampanye yang dibuat dan dipasang KPU Kota Surabaya banyak yang rusak dan hilang. Namun tidak segera diganti mendapat protes keras dari kedua tim pemenangan dua pasangan calon.

Ketua Tim Pemenangan Rasiyo-Lucy Kurniasari, Agung Nugroho, menyayangkan sikap KPU yang memilih menunggu secara kolektif untuk mengganti spanduk maupun baliho yang rusak maupun hilang.

Menurutnya, jika menunggu penggantian secara kolektif akan merugikan banyak pihak khususnya pasangan calon yang diusung Partai Demokrat-PAN yang membutuhkan sosialisasi.

"Kalau menunggu kolektif tidak hanya merugikan paslon tapi juga warga. Karena kita ingin paslon tersosialisasikan, kalau harus menunggu kolektif akan memakan waktu dan akan banyak warga yang tidak mengetahui paslon khususnya paslon nomor urut 1," ujar Agung di Kantor KPU Kota Surabaya, Selasa (20/10/2015).

Bahkan Agung mengancam akan mengganti atribut kampanye sendiri tanpa menunggu KPU. Jika tidak segera diganti. "Kalau tidak segera, kami dari tim yang akan melakukan pengganti. Harus lebih responsif, lebih sigap," tegas dia.

Hal senada ditegaskan Tim Pemenangan pasangan Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana yang menilai kinerja KPU sebagai penyelenggara pilkada lambat.

"Sudah jauh hari sebelum atribut kampanye selesai diproduksi kita ingatkan kesiapan pengganti. Tapi, mana buktinya sekarang," kesal juru bicara tim pemenangan Risma-Whisnu, Didik Prasetiyono di Kantor KPU Surabaya.

Didik yang juga Wakil Ketua PDIP Surabaya menambahkan KPU Kota Surabaya terlalu banyak alasan untuk mengganti atribut kampanye yang rusak. "Alasan yang dilontarkan selalu, tidak hanya mengurusi satu masalah saja. Masa pesan spanduk atau umbul umbul dari vynil sehari tidak bisa. Kenapa harus menunggu kolektif, tidak efektif!," pungkas Didik dengan nada tinggi. (ze/try)
Berita Terkait