Setelah memasuki pintu utama, kita akan langsung bisa melihat sebuah lonceng besar kuno. Lonceng yang tergantung di sebuah kayu tersebut mempunyai cetakan angka tahun di atasnya yakni tahun 1843
Tulisan lain yang juga tercetak di atas lonceng itu adalah 'Paul van Vlissingen & Dudok van Heel Amsterdam 1843'. Belum diketahui siapa nama orang yang tercetak di atas lonceng tua tersebut. Lonceng tersebut dulunya biasa dibunyikan untuk mengumpulkan anggota saat hendak apel.
Bergeser ke kanan, ada sejumlah bongkahan potongan berbentuk kotak kayu jati berwarna coklat. Kayu itu adalah sisa kayu jati yang digunakan untuk membentuk atap gedung. Bergeser di depannya terdapat sebuah sepeda kuno. Pada besi di bawah sadel terukir kata 'Polisi' yang menandakan bahwa sepeda kumbang tersebut milik seorang polisi. Pada bagian boncengan sepeda tercantol sebuah tas.
"Sepeda ini dulunya digunakan untuk berpatroli," ujar Kapolrestabes Surabaya Kombespol Yan Fitri Halimansyah kepada wartawan, Jumat (9/10/2015).
Beralih ke tembok, di sana tergantung banyak foto zaman dahulu yang menggambarkan bangunan Polrestabes Surabaya serta bangunan institusi polisi lain yang ada di Surabaya. Di tembok tergantung juga sebuah TV LED 32 inch. TV tersebut memutar video rekaman kegiatan polisi zaman dahulu serta suasana Kota Surabaya di masa silam.
Masuk ke lobby, kita akan melihat sebuah brankas kuno tepat di depan pintu masuk. Brankas berbentuk persegi tersebut disebut brankas geser. Brankas berwarna gelap itu ditemukan di Polsek Bubutan yang waktu itu bernama Politie Commissariaat 3 Sectie. Pada bagian atas brankas terdapat tulisan timbul 'Jacobson Van Den Berg & Co Semarang, Soerabaya, Batavia.
Di dalam ruangan tersebut terdapat berbagai macam benda bersejarah, mulai dari foto sejarah, alat identifikasi, kamera, mesin ketik, meja kerja, alat penyadap, radio komunikasi, alat pengering foto, east man printer, dan lain sebagainya.
"Kamera-kamera ini kami temukan di atap bangunan. Tidak tahu kenapa kok bisa diletakkan di sana," terang Yan Fitri.
Terdapat juga sejumlah baju polisi zaman dahulu. Lalu ada baju Kapolri yang pernah menjabat sebagai Kapolwiltabes Surabaya. Yang menarik adalah adanya senjata api (senpi) yang menjadi bagian dari koleksi museum.
Senpi yang hanya bisa dilihat dari kotak kaca itu sebagian besar merupakan senpi hasil rampasan dari penjajah Belanda maupun Jepang. Ada Luger dan Colt untuk jenis pistol. Dan untuk senjata laras panjang, ada berbagai macan jenis seperti MK Bren MK III, Coeng, Ruger Mini, Mauser, US Carabine, dan Lee Enfield.
"Senjata-senjata ini dulunya dirampas dari tentara KNIL dan Jepang. Juga ada yang dirampas dari pemberontak DI/TII," tandas Yan Fitri. (iwd/bdh)










































