Angka itu meningkat 50,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2014 sebanyak 53 kasus. Sedikitnya 22 pelajar tewas sia-sia di jalan akibat tak tertib dalam berlalu lintas.
Tren meningkatnya angka kecelakaan pelajar itu menjadi alasan bagi Sat Lantas Polres Mojokerto untuk melatih kedisiplinan para pelajar. Sebanyak 100 pelajar nakal tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Mojokerto dikumpulkan di lapangan Mapolres Mojokerto, Rabu (7/10/2015) siang.
Di bawah terik matahari, selama berjam-jam mereka dijemur bersama. Namun tak sekedar dijemur, para pelajar nakal itu digembleng peraturan baris berbaris (PBB) dan pelatihan fisik ala militer.
"Para pelajar ini banyak melakukan pelanggaran lalu lintas. Seperti tak pakai helm, berboncengan tiga, motor tak standart, ada juga yang permintaan dari pihak sekolah karena tak sanggup mendidik murid mereka yang nakal," kata Kasat Lantas Polres Mojokerto, AKP Asep Kurnia kepada wartawan.
Pantauan detikcom di lokasi, 100 pelajar nakal itu disuruh polisi untuk berlari mengitari Mapolres Mojokerto sebanyak 2 kali. Di bawah terik matahari, para pelajar laki-laki dan perempuan berbaris rapi di lapangan upacara polres. Sembari disuruh meresapi kesalahan, mereka diminta petugas bersujud mencium tanah sekitar 5 menit.
Namun, tak semua pelajar tertib mengikuti instruksi anggota Sat Lantas yang membina mereka. Beberapa pelajar terlihat dihukum push up sebanyak 10 kali sebab tak tertib saat berbaris. Akibatnya, sejumlah pelajar yang tak kuat fisiknya bertumbangan. Mereka nyaris pingsan akibat kelelahan.
"Pembinaan ini untuk menekan angka kecelakaan pelajar. Harapan kami para pelajar lebih tertib dalam berlalu lintas, mereka harus menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas untuk ditularkan kepada teman dan keluarga," ujar Asep.
Asep menjelaskan, kasus kecelakaan yang melibatkan pelajar tingkat SMP dan SMA di wilayah hukumnya meningkat drastis dibandingkan tahun lalu. Jika periode Januari-September 2014 kasus kecelakaan pelajar sebanyak 53 kejadian, pada periode yang sama tahun ini meningkat 50,9% menjadi 80 kejadian.
Meningkatnya angka kecelakaan pelajar itu juga berbanding lurus dengan jumlah korban pelajar yang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Sedikitnya 22 nyawa pelajar di Kabupaten Mojokerto melayang sia-sia di jalan. Angka itu meningkat 46,7% dari tahun 2014 yang sebanyak 15 pelajar tewas.
"Korban pelajar luka ringan periode Januari-September 2014 sebanyak 54 orang, periode yang sama tahun ini meningkat 92,6 persen menjadi 104 orang pelajar. Faktor utama penyebab kecelakaan pelajar ini karena mereka tak tertib dalam berlalu lintas. Untuk itu kami beri pembinaan," ungkap Asep.
Lantas bagaimana respon para pelajar nakal itu?
Pelajar kelas XI SMAN Kutorejo, Muhammad Arman (17) bersedia membagi pengalamannya. Dia mengaku ikut dibina Sat Lantas Polres Mojokerto sebab pernah melanggar lalu lintas, yakni tak memakai helm saat melintas di jalan raya.
"Saya pernah kena tilang karena tak pakai helm. Setelah pembinaan ini saya baru sadar pentingnya memakai helm saat mengendarai motor," ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Yoko Priyono yang melihat langsung pembinaan 100 pelajar nakal itu mengaku prihatin. Terlebih lagi, para pelajar yang melanggar lalu lintas masih duduk di bangku SMP yang semestinya belum diperbolehkan mengendarai sepeda motor. Untuk itu pihaknya menyambut baik upaya Polres Mojokerto untuk menekan angka kecelakaan yang melibatkan pelajar.
"Akan saya evaluasi kembali agar masing-masing sekolah, khususnya tingkat SMP agar tidak membawa motor ke sekolah, untuk yang jangkauan cukup jauh saya minta agar orang tua mengantar ke sekolah," tandasnya (bdh/bdh)











































