Kabid Perancangan dan Pemanfaatan Dina PU Bina Marga dan Pematusan Surabaya, Ganjar Siswo Pramono mengungkapkan, box culvert Banyu Urip kedalaman 6 meter dan lebar mencapai 12 meter (untuk 3 cell berjajar) mampu menampung volume air dalam jumlah banyak.
"Daya tampung air jelas lebih besar dibanding saat masih berupa saluran irigasi," ujarnya saat ditemui di kantornya, Rabu (7/10/2015).
Ia juga menuturkan untuk pembersihan saluran, pihaknya mempunyai dua alat yang memudahkan proses pengambilan kotoran maupun sampah dari dalam box culvert. Kedua alat itu, mini dozer dan mini eskavator.
Ganjar juga optimis, jika seluruh pengerjaan box culvert Banyu Urip tuntas. Akan mampu mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan industri Surabaya Barat.
"Selain itu juga berfungsi sebagai jalur penghubung ke area Surabaya Barat serta akses dari dan menuju Pelabuhan Teluk Lamong," imbuhnya.
Proyek box culvert mempunyai panjang 13.850 meter dan saat ini sudah 50 persen selesai dikerjakan atau 6.700 meter dari Girilaya hingga Manukan.
Pemkot Surabaya sengaja menerapkan konsep konversi saluran irigasi menjadi saluran drainase. Pada mulanya, saluran air di kawasan Banyu Urip merupakan saluran irigasi dengan tujuan mengairi lahan-lahan persawahan di sekitarnya. Itulah sebabnya, posisi saluran air lebih tinggi dari jalan maupun permukiman warga yang membuat rentan banjir saat musim hujan tiba.
Kondisi tersebut membuat Pemkot Surabaya merombak total fungsi saluran air di Banyuurip menjadi saluran drainase yang berfungsi bukan lagi mengairi areal sekitar, melainkan lebih kepada tempat tampungan air karena posisi saluran sudah tidak lagi lebih tinggi dari jalan. (ze/bdh)











































