Kisah Zaenuri,'Pembunuh Bayaran' Keliling Saat Idul Adha

Kisah Zaenuri,'Pembunuh Bayaran' Keliling Saat Idul Adha

Putri Akmal - detikNews
Kamis, 24 Sep 2015 11:16 WIB
Kisah Zaenuri,Pembunuh Bayaran Keliling Saat Idul Adha
Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Berbekal peralatan seadanya, parang, kapak, pisau dan tali tampar, Zaenuri (73) menyusuri lorong-lorong kampung dengan sepeda motor hitamnya. Perawakannya yang kurus dan berkumis mengisyaratkan kesan garang persis seperti profesinya sebagai 'pembunuh bayaran' alias jagal hewan keliling.

Usai salat Idul Adha, ia segera bergegas keluar dari rumah sederhananya di Jalan Kalilo, Banyuwangi untuk mencari mangsa. Ijazah sekolah kejuruan yang ia kantongi tak serta merta Zaenuri gunakan sebagai bekal kerja.

Warisan ilmu dari mendiang ayahnya membuat pria berkulit sawo matang ini memilih menekuni profesi sebagai jagal hewan keliling. Tapi, tampang garang pria ini seolah luntur dengan keramahannya saat ia menyapa pengurus tamir masjid di beberapa lokasi penyembelihan hewan kurban.

"Saya sudah lebih dari 40 tahun jadi tukang jagal hewan keliling," ucap Zaenuri ketika berbincang dengan detikcom, Kamis (24/9/2015).

Perayaan hari raya kurban tahun ini, tentu mendatangkan berkah tersendiri bagi para tukang jagal hewan kurban keliling. Zaenuri adalah salah satu 'pembunuh bayaran' keliling yang ikut panen rezeki.

Jika hari biasa tarif menyembelih hewan per ekor dihargai Rp 200 ribu, tetapi saat Idul Adha upah para jagal bisa naik hingga dua kali lipat.

Sepanjang perayaan Idul Adha ini, ia harus berkeliling mendatangi sejumlah lokasi pemotongan hewan kurban yang tersebar di berbagai tempat di Banyuwangi dengan tarif sebesar Rp 400 ribu per ekornya. Dalam aksinya, Zaenuri dibantu 7 orang rekannya yang memiliki tugas berbeda, diantaranya menguliti dan bagian memisahkan daging dengan tulangnya.

"Selama pelaksanaan pemotongan hewan kurban, biasanya bisa menyembelih sekitar 15-20 ekor sapi. Rata-rata bisa dapat penghasilan sekitar Rp 6 juta," ucap Zaenuri seusai memotong puluhan hewan kurban di halaman Masjid Al Mabrur, Tamanbaru.

Tak hanya sapi, puluhan ekor kambing juga tak luput ia sembelih di momen Idul Qurban ini. Namun, upah menyembelih kambing tak sebesar upah saat memotong sapi. Biasanya ketika menyembelih kambing, panitia Idul Qurban selalu menyertakan kulit kambing sebagai imbalan, dan sebagai upah memotong kambing ia dihargai sekitar Rp 150 ribu per ekor. Lalu, Brak! Puluhan kulit kambing di masukkan bergiliran kedalam keranjang bambu yang ia siapkan menggantung di sisi kanan kiri sepeda motornya.

Meski begitu panen rezeki para jagal pembunuh bayaran biasanya hanya dinikmati saat Idul Adha. Ketika perayaan kurban usai, terkadang hingga berhari-hari Zaenuri tidak mendapatkan orderan sama sekali.

Saat sepi orderan pria bertubuh kurus ini bekerja serabutan, seperti supir, tukang bangunan hingga tukang kebun. Namun Zaenuri tak pernah menyesali nasibnya, bagi bapak empat orang anak itu hidup adalah sebuah perjuangan yang harus ia lakoni demi menyambung sebuah tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

"Kalo sepi order jagal ya saya nyupir, nukang, sama jadi tukang kebun, apa aja sudah bisa tak kerjakan. Tetap berjuanglah namanya juga hidup," pungkasnya sambil tersenyum. (bdh/bdh)
Berita Terkait