Karena itu, warga sempat meminta agar lokasi bertapa sang nenek pindah ke dekat pemukiman. Sehingga, warga bisa dengan mudah ikut mengawasi dan menjaganya.
"Sudah berkali-kali diminta pindah ke dekat rumah warga, tapi dia selalu menolak," kata Ninghar Supriyadi, seorang warga Desa setempat, Rabu (9/9/2015).
Nenek Sitiani sendiri merasa tidak khawatir, meski hampir setiap malam dikelilingi anjing liar. Bahkan, beberapa malam lalu di dekatnya ada segerombolan anjing liar yang memangsa babi hutan hingga mati. Saat peristiwa itu terjadi, nenek Sitiani mengaku hanya tetap diam di tempatnya bertapa.
"Gi kaule nyoltek. Enten nika tak apa-napa patekna ka kaule. Tak oning patekna napa nangale napa enten ka kaule (Ya saya diam saja. Anjingnya tidak melakukan apa-apa ke saya. Tidak tahu apa anjing itu melihat atau tidak ke saya, red)," tutur nenek Sitiani dengan bahasa Madura.
Selama bertapa, nenek Sitiani merasakan semuanya berjalan normal-normal saja. Dia juga tidak pernah didatangi makhluk-makhluk menyeramkan, layaknya ujian buat para pertapa lainnya. Sitiani mengaku hanya bermimpi biasa, pada saat dirinya tertidur sejenak.
"Saya dua kali tertidur sebentar, dan saya dua kali itu bermimpi menggendong anak kecil. Lainnya itu tidak ada," tuturnya. (bdh/bdh)











































