Rupiah Melemah Bikin Home Industry di Probolinggo Mati Suri

Rupiah Melemah Bikin Home Industry di Probolinggo Mati Suri

M Rofiq - detikNews
Rabu, 19 Agu 2015 15:45 WIB
Rupiah Melemah Bikin Home Industry di Probolinggo Mati Suri
Foto: M Rofiq
Surabaya - Dampak melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika membuat sebagian besar pemilik home industry di Kabupaten Probolinggo resah. Penyebabnya adalah harga bahan baku mengikuti harga dollar.

Contoh pali kentara adalah home industry kaca grafir di Desa Asembagus, Kraksaan, kabupaten Probolinggo. Selama 4 bulan terakhir ini, peminat kaca grafir mulai sepi.

Sepinya pesanan bahkan membuat home industry ini seakan mati suri dan di ambang gulung tikar. Padahal pemasaram kerajinan kaca grafir cukup luas, hingga ke Bali, Jember, dan Pasuruan.

"Selama 4 bulan ini kami mengalami penurunan produksi sangat drastis. Faktor utama adalah dampak nilai tukar rupiah terhadap dollar karena bahan baku kaca grafir yang kami gunakan sebagian mengikuti harga nilai tukar rupiah ke dollar," tutur Umar (30), pemilik home industry kaca grafir, Rabu (19/8/2015).

Umar mengatakan, bahan baku yang mengikuti harga nilai tukar dollar adalah kaca kuningan sebagai pelengkap utama untuk kaca grafir. Kaca kuningan dikulak Umar dari Surabaya.

"Harganya sekarang hampir mecapai Rp 40 ribu per lonjor, yang sebelumnya hanya Rp 23 ribu per lonjor. Untuk saat ini kami hanya melayani ketika ada pemesanan saja, dan hasilnya pun tidak seberapa," jelas Umar.

Sebelumnya, kata Umar, dia tidak perlu menunggu pesanan dan terus membuat kerajinan karena pasti laku. Dengan kondisi ini, omzet Umar otomatis terjun bebas.

Dikatakannya, sebelum nilai tukar dollar meroket, omzet perbulannya bisa mencapai lebih dari Rp 20 juta. Namun setelah dollar mulai naik, omzet yang didapatnya hanya Rp 1,5 juta.

"Dengan omzet seperti itu, kami tidak mampu meneruskan. Karena untuk gaji karyawan saja tidak mencukupi. Bahan bakunya mengikuti harga dollar. Peminatnya saat ini menurun drastis," sebutnya lagi.  

Dikatakan Umar, ekonomi saat ini memang sangat sulit. Di kalangan home industry terjadi stagnasi sehingga banyak home industry yang tidak mampu menjual produk mereka. Tak heran banyak terjadi penumpukan hasil produksi karena tak laku jual.

"Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada saya saja, melainkan juga terjadi terhadap home industry lainnya di Kabupaten Probolinggo. Kondisi ini sangat berat, apalagi bagi industri yang bahan bakunya mengandalkan impor sedangkan menjualnya di dalam negeri, akhirnya rugi. Apalagi sekarang ini daya beli masyarakat turun," ujarnya.

Umar berharap, pemerintah lebih meningkatkan kondisi ekonomi sehingga daya beli masyarakat meningkat. Dengan begitu, perputaran uang di masyarakat juga semakin besar.

"Misalnya pemerintah mengucurkan anggaran pembangunan baik di tingkat provinsi maupun Kabupaten/Kota," tandas Umar. (iwd/iwd)
Berita Terkait