Gubernur Jawa Timur Soekarwo menerangkan, awalnya ada 711 desa yang mengalami krisis air. Kemudian mengalami penurunan menjadi 541 desa. Hingga saat ini yang masih mengalami krisis air bersih menjadi 238 desa.
"Kenapa kok jumlahnya terus menurun. Karena ada pipanisasi, ada sumur bor air dalam. Ada embung jumlahnya 197 embung," kata Soekarwo, Jumat (14/8/2015).
Desa yang mengalami krisis air bersih tersebar di 24 kabupaten. Kemudian, jumlahnya terus menurun dan tinggal 5 sampai 9 daerah seperti di Kabupaten Tuban dan Sampang.
"Ada water treatment, tapi airnya tidak bisa untuk mandi tapi untuk mencucui. Air bersihnya tetap didrop. Kalau yang ada sumur bor dan pipa, tidak mendapatkan droping air," tuturnya sambil menambahkan, pengiriman air bersih di daerah yang membutuhkan, akan dipasok sampai Nopember 2015.
Sedangkan lahan pertanian yang mengalami kekeringan mencapai 20 ribu hektar. Namun, yang puso dari 250 hektar turun menjadi 198 hektar.
"Lahan pertanian (puso) ada padi, jagung, kedelai. Ada daerah yang bisa ditangani dengan sumur pompa," tandasnya.
Meski demikian, Jawa Timur masih tetap menjadi daerah penyumbang terbesar produksi padi secara nasional. Dari sebelumnya hanya 12,3 juta ton gabah kering giling, sekarang menjadi 12,7 juta ton gabah kering giling.
"Ada kenaikan produksi 400 ribu ton gabah kering giling," tandasnya.
(fat/fat)











































