Pelaku adalah Mat Saleh (43). warga Sidorukun, Gresik. Saleh diamankan di rumah saudaranya di kawasan Kemayoran, Asemrowo.
"Saleh ini lah yang melukai korban (Muafi) hingga tewas," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Takdir Mattanete kepada wartawan, Kamis (6/7/2015).
Dari keterangan Saleh, kata Takdir, diketahui jika kasus itu bermula saat Rabu pagi Saleh sedang mencari kuli di kawasan Kemayoran. Ternyata dia tak menemukan satu kuli pun untuk bisa bekerja padanya.
Saat perjalanannya melewati Jalan Tanjungsari, Saleh melihat Tabel, salah satu kuli anak buahnya sedang bekerja di sebuah rumah. Saleh menegur Tabel dan Tabel menjelaskan bahwa tabel sedang bekerja pada Ahmad Hasan.
Saleh lalu menemui Hasan sekaligus bermaksud untuk meminjam kuli anak buah Hasan untuk dikerjakan di gudang besi tua miliknya. Namun yang terjadi adalah salah paham. Hasan justru marah-marah dan mengancam membunuh Saleh.
"Tersangka kemudian mendatangi Junaedi yang ada di Benowo," ujar Takdir.
Saleh lalu curhat ke Junaedi. Tak ingin masalah berlanjut, Junaedi pun bermaksud mendatangi Hasan untuk menyelesaikan masalah. Junaedi datang tidak sendiri. Selain ditemani Saleh, Junaedi juga ditemani anaknya, Saiful, Faisol, dan Rohman. Mereka naik mobil Terios nopol L 1959 VQ.
Setiba di rumah Hasan, mereka disambut oleh Hasan dan keponakannya, Muafi. Dari bicara baik-baik, mereka akhirnya cekcok. Tiba-tiba Muafi mengeluarkan celurit dan langsung membacok Juanedi. Junaedi terbacok di punggungnya.
Melihat ayahnya mendapat serangan, Saiful berusaha melindungi. Namun justru giliran Saiful yang terkena bacok. Meluhat hal itu, Saleh langsung bertindak. Saleh merebut celurit dari tangan Muafi dan membacokkannya mengenai siku dan bagian bawah ketiak Muafi.
Muafi lari ke rumah sebelah. Saleh dan Saiful lalu dengan segera membawa Juanedi ke Rumah Sakit PHC. Dua jam kemudian diketahui jika Muafi telah tewas di lantai dua rumah yang dijadikan usaha pembuatan kusen milik Yatip.
"Korban Muafi sebenarnya tidak terluka parah. Namun dia tewas karena kehilangan banyak darah. Dia terus bersembunyi di rumah itu karena ada banyak polisi datang pascakejadian tersebut," jelas Takdir.
Takdir sendiri mengaku masih mencari tiga orang lainnya. Keterangan mereka sangat diperlukan untuk melengkapi penyelesaian kasus ini. (iwd/iwd)











































