"Tuntutan pegawai yakni mencari nama "Joko dan Joko" yang dianggap mengubah kebijakan. Yaitu kebijakan jam istirahat untuk makan, semula 4 pintu dibuka, sekarang hanya satu pintu. Ketika ribuan orang lapar dan kepanasan kayak gini antre satu pintu, akhirnya marah ke security," kata Bupati Suyoto kepada wartawan di lokasi, Sabtu (1/7/2015).
Dari ribuan orang itu, jelas bupati, menanyakan siapa yang membuat kebijakan. Apakah Mobile Cepu Limited (MCL) apa Tripatra. "Jadi ini dicari siapa yang membuat kebijakan, MCL apa Tripatra," tegasnya.
Untuk itu pihaknya menginginkan segera dilakukan normalisasi atas kejadian ini.
"Jadi saya sudah minta ke kapolres segera dilakukan clear and check. Selain itu pelaku kriminalnya segera ditangani dan recovery dan produksi bisa jalan kembali. Dan secepatnya pekerjaan bisa dituntaskan," jelasnya.
(fat/fat)











































