Dukun pandito Sumo Kuncoro mengatakan warga membawa sesaji hasil bumi berupa sayur-mayur dan buah-buahan. Sebelum dikorbankan, sesaji-sesaji tersebut terlebih dulu didoakan oleh masing-masing dukun pandita dari desa masing-masing.
"Yadnya Kasada ini berawal dari cerita rakyat suku Tengger, yang mengisahkan Roro Anteng dan Joko Seger, keduanya pasangan suami istri. Joko seger merupakan anak manusia yang berwibawa dan berbudi luhur, sedangkan Roro Anteng merupakan titisan Dewi," kata Dukun Sumo.
Sebagai bentuk kehormatan, warga Tengger mengorbankan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Ini menunjukkan agar warga tentram, damai dan hasil pertanian bisa melimpah.
Masyarakat, suku Tengger mempercayai, jika tidak memberi sesembahan, maka kawah Gunung Bromo akan murka dan menghancurkan warga suku Tengger.
Sementara itu upacara ini dipenuhi wisatawan lokal dan mancanegara. Salah satu wisatawan dari Meksiko, Paula, mengaku sangat kagum kultur warga suku Tengger yang ramah sekali. Dia mengaku baru pertama kalinya melihat Gunung Bromo dari dekat.
"Cukup menyenangkan sekali, baru kali ini saya melihat ritual semacam ini dan tidak pernah ditemukan di negara lain," jelas Paula.
Dari pantauan detikcom, pengunjung terlihat memadati lokasi upacara. Mereka seakan tidak peduli dengan hawa dingin yang menembus kulit meski sudah diselimuti jaket. (iwd/iwd)











































