Menurut Ketua Tim Kerja Koalisi Majapahit, AH Tony, penundaan pilkada adalah langkah yang terbaik dilakukan demi pilkada yang sehat.
Saat ini, kata dia, sudah terbentuk opini calon boneka jika ada calon yang akan mendaftar untuk bersaing dengan pasangan calon petahana atau incumbent.
"Kita tidak ingin pilkada yang tidak sehat. Meski calon yang kita usung punya kekuatan dan punya integritas dan siap bersaing. Tapi sudah terbentuk opini calon boneka.
"Maka lebih baik pilkada ditunda agar lebih konstruksi dan demokratis," tegas dia kepada detikcom, Kamis (30/7/2015).
Ia menegaskan, seluruh calon yang mengikuti penjaringan koalisi partai terdiri, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PKB, PKS, PAN, Partai Golkar dan Partai NasDem ini, mempunyai kapasitas dan siap bertarung dengan petahan.
"Siapa juga yang tidak kenal dengan mas Dhimam Abror, semua calon yang kita jaring punya kekuatan untuk bertarung dengan petahana. Tapi sudah terbentuk opini calon boneka, lebih baik diundur saja," ungkap dia.
Tony menyebut saat ini, Koalisi Majapahit masih terjadi tarik ulur untuk menentukan calon dan baru mempunyai calon walikota yang sudah mendapat rekomendasi dari partai dan disetujui koalisi 6 partai politik ini.
Calon walikota yang mendapat rekomendasi itu, Syamsul Arifin dari PKB. "Kita tidur sekarang pun bentuk perlawanan," tegasnya.
(fat/fat)











































