"Desa dikategorikan kering kritis apabila tidak hujan selama tiga hari berturut-turut sehingga kekurangan air bersih. Selain itu, masyarakat apabila mau mengambil air bersih minimal paling dekat 3 kilometer," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Dwijoko Nurjayadi, kepada detikcom, Senin (27/7/2015).
Saat ini terdapat dua desa yang mengalami kekeringan paling parah (kritis). Yakni Desa Desa Tegal Sono dan Desa Gunung Bekel, Kecamatan Tegalsiwalan.
Untuk itu, BPBD mulai melakukan dropping (distribusi) air bersih ke sejumlah daerah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Joko, menjelaskan pendistribusian air bersih nantinya akan dilakukan sesuai permintaan masyarakat yang direkomendasi kepala desa. Dalam distribusi tersebut, BPBD mengerahkan enam armada untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat.
"Perlu sinergitas program pembangunan, salah satunya dengan membangun sumur bor dan pipanisasi di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Hal lain adalah membangun embung untuk merangsang sumber mata air," urainya.
"Kami berharap dari tahun ke tahun Desa kering kritis terus berkurang. Keterlibatan instansi terkait seperti BLH, PDAM dan instansi terkait lainnya untuk ikut mengurangi risiko bencana kekeringan sangat dibutuhkan," pungkasnya. (bdh/bdh)











































