Seperti lazimnya tradisi kupatan di daerah lain, warga Desa Bandung berbondong-bondong membawa tumpeng ketupat ke musala di dekat rumahnya. Usai berdoa bersama, warga menyantap bersama ketupat yang lengkap dengan lontong, lepet (makanan dari ketan bercampur parutan kelapa yang dibungkus dengan janur kuning atau daun pisang), sayur serta lauk.
Namun tradisi kupatan di Desa Bandung tak berhenti disitu. Tradisi kupatan di kampung ini dilanjutkan dengan menerbangkan balon udara raksasa dari setiap musala. Sebelum diterbangkan, pada balon berdiameter sekitar 2 meter itu disertakan sejumlah hadiah berupa pakaian baru. Hadiah-hadiah itu bakal menjadi rebutan warga lainnya saat balon udara mendarat.
"Tradisi ini sebagai wujud rasa syukur kami kepada Alloh. Kegiatan tahunan ini juga menambah kerukunan warga," kata salah seorang tertua di Desa Bandung, Muhammad Amin (50) kepada wartawan.
Menerbangkan balon udara ke angkasa dilakukan warga dengan cara yang cukup sederhana. Balon diisi dengan asap hasil pembakaran daun pisang yang sudah mengering dan kulit kelapa. Balon yang mengembang karena terisi asap itu pun secara otomatis terangkat ke udara.
Tepuk tangan meriah dan sorak sorai warga mengiringi terbangnya setiap balon udara raksasa itu ke angkasa. Tak sedikit penonton mengikuti arah terbangnya balon menanti jatuhnya untuk mendapatkan sejumlah hadiah.
Tradisi yang membawa kegembiraan warga Desa Bandung itu membayar lunas jerih payah para pembuat balon udara tersebut. Menurut Amin, dibutuhkan waktu 3 malam untuk merangkai lembaran kertas sampul berwarna membentuk sebuah balon.
"Setiap tahunnya kami membuat sendiri, biayanya sekitar Rp 150.000 per balon," ungkapnya. (bdh/bdh)











































