Dalam keseharian, umumnya mereka berprofesi sebagai pemulung dan menjadikan profesi pengemis sebagai 'exstra job' yang dilakoni selama Bulan Ramadan. Pantauan detikcom, seperti biasa mereka mengemis dan beroperasi menyebar dengan bergerombol sambil mengajak anak-anaknya.
Aktifitas mereka jamak dijumpai di depan supermarket, Ruang Terbuka Hijau (RTH), halaman parkir tempat ibadah dan bekas pusat perbelanjaan seperti di Mall of Sritanjung (MOS).
Salah satunya adalah PN. Ibu 9 anak yang merupakan warga Kelurahan Kampung Ujung, Banyuwangi. PN yang ditemani 2 anaknya ini mangkal di depan supermarket bersama SG, kawan satu kampungnya.
Mereka mengaku hanya menjalani profesi ini ketika Ramadan saja. Penghasilan sebagai pemulung mereka akui tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, apalagi untuk persiapan lebaran.
Penghasilan sebagai pemulung per minggu mendapat Rp 60 ribu. Tapi dengan extra job menjadi pengemis, PN mampu meraup Rp 25 ribu dengan waktu satu malam.
"Hasilnya ya dipakai untuk sehari hari, untuk makan dan persiapan lebaran," ujar PN sambil memasang selimut untuk menghangatkan anak yang dipangkunya saat ditemui depan minimarket di Jalan Ahmad Yani, Rabu (15/7/2015) malam.
Kondisi ekonomi ini dijadikan alasan mereka untuk mengemis. PN mengaku tak malu dengan pekerjaan yang dilakoni. Bahkan sang suami yang bekerja sebagai pemulung serta 9 anaknya pun juga mengetahui.
"Suami sama anak-anak tahu, ini 2 anak saya juga tak ajak ke sini. Sudah biasa diajak kerja, biar mereka tahu gimana susahnya dapat uang," imbuh PN. Anak PN terbesar berusia 24 tahun, dan yang bungsu berusia 6 tahun. Empat anaknya juga menjadi pemulung.
Alasan mereka memilih Ramadan menjadi bulan favorit untuk mendulang rezeki ini, pasalnya mereka berkeyakinan jika momen bulan suci adalah bulan yang tepat untuk berbagi atau bersedekah.
Mereka juga memaklumi jika kondisi ini bisa menarik serbuan pengemis dari luar kota ke Banyuwangi. Saat beroperasi, prinsip saling toleransi mereka junjung agar tak pernah ada bentrok karena rebutan wilayah.
"Saya nggak malu minta-minta gini, kalau mereka mau shodaqoh, beramal atau zakat bisa sama saya saja. Kalau pas gini ini, sudah biasa kalau ada pengemis dari luar kota, gak apa-apa namanya juga sama-sama kerja," tutupnya.
Halaman 2 dari 4










































