Pak Bupati, Masih Banyak Pengemis di Jalanan Sidoarjo

Pak Bupati, Masih Banyak Pengemis di Jalanan Sidoarjo

Suparno - detikNews
Senin, 29 Jun 2015 10:45 WIB
Pak Bupati, Masih Banyak Pengemis di Jalanan Sidoarjo
Foto: Suparno/detikcom
Sidoarjo - Pengemis yang membawa serta anak-anak dan pengamen masih banyak beroperasi di jalanan Sidoarjo. Tentunya, pemandangan yang bisa dijumpai setiap hari ini mengundang keprihatinan.

Peredaran pengemis dan pengamen yang mengais rezeki di wilayah yang dipimpin Bupati Syaiful Illah itu hampir bisa dijumpai setiap hari di sejumlah titik dan penyebarannya pun merata. Padahal Satpol PP setempat juga sudah berusaha menertibkan selama ini.

Pantauan detikcom, para pengemis yang membawa serta anak-anak itu terlihat di persimpangan di Candi, Larangan, Jalan Majapahit, Jalan Ahmad Yani atau sebelah timur alun-alun, Pucang, Siwalan Panjing Kecamatan Buduran hingga di perempatan Gedangan.

Kadangkala ulah pengemis ini mengundang bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya. Misalnya di perempatan Siwalan Panji, Buduran, sejumlah pengemis yang didominasi perempuan melakukan aktivitas mengemis dengan duduk di berm pembatas jalur tengah.

Seorang pengemis perempuan yang ditemui detikcom pada Minggu (28/6/2015) sore, mengaku jika apa yang dilakukan bersama dua anaknya karena tidak ada pilihan lagi untuk bisa bertahan hidup.

"Saya terpaksa mengemis karena suamiku meninggal dua tahun kemarin, saya punya anak dua," kata Sumarni, perempuan yang
mengaku tinggal di penampungan gelandangan dan pengemis di dekat Sungai Kali Porong ini.


Anak Sumarni, yang pertama ini masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SD dan yang bungsu masih berumur 4 tahun. "Mau minta siapa lagi saya gak punya saudara ya terpaksa seperti ini, hasilnya setiap hari ya cukup untuk kebutuhan hidup," katanya saat ditemui di pertigaan Candi.

Ia memastikan anak yang dibawanya adalah anak kandungnya, bukan sewaan seperti banyak yang diulas di media. "Ini anak saya asli, kalau gak percaya silahkan ditanya," pintanya.

Saat ditemui, SRM memang mengajak dua anak sulungnya yang bernisial A yang kebetulan libur sekolahnya. "Aku kelas telu SD,
ngewangi Ibu (Saya kelas 3 SD, ini bantu ibu)," jawab A.

Pengemis perempuan memang lebih mendominasi. Di perempatan JalanĀ  Ahmad Yani juga banyak terlihat. Salah satunya adalah perempuan
yang mengaku bernama Anik (22).

Perempuan yang mengaku tinggal di Bungurasih, Waru, ini setiap hari mengemis secara berpindah-pindah. Sabtu sore ia terlihat di persimpangan Jalan Ahmad Yani.

Ia mengaku juga tidak pernah bercita-cita menjadi seorang pengemis. Namun, kondisi ekonomi yang membuatnya harus tetap berjuang hidup.

"Sebenarnya juga gak kepingin kerja seperti ini, tapi saya hanya lulus SD karena orangtua saya meninggal saat itu," ujarnya sambil mengendong anak lelakinya yang masih berumur 2,5 tahun.

Anik menegaskan anak yang dibawanya bukan anak orang lain. Mengemis dilakukannya sudah lama karena suaminya tidak memiliki
pekerjaan pasti. "Terpaksa karena suamiku tidak kerja, kerjaanya juga ngamen di jalan-jalan, aku mau ngamen gak bisa nyanyi," ungkapnya polos.

Masih kata Anik, meskipun banyak pengemis yang ditertibkan Satpol PP, namun dirinya tidak merasa takut tertangkap. Ia memiliki strategi khusus. Salah satunya yaitu berpindah tempat untuk menghindari sergapan petugas.


"Saya berpindah-pindah tempat, dan melihat situasi. Saya memilih sore hari, kalau pagi dan siang takut digaruk Satpol PP," jelasnya.
Halaman 2 dari 3
(ugik/ugik)
Berita Terkait