Korban yang dulunya merupakan anak ceria dan supel dalam pergaulan, kini menjadi pribadi yang pendiam. Bahkan sejak mengalami tindak kekerasan, korban sering merasa takut bertemu orang asing yang belum dikenalnya.
"Korban sekrang lebih cenderung pendiam. Ketakutan ketemu orang, terutama jika ada tamu orang asing," ungkap Perwakilan Koalisi Perempuan Ronggolawe Ronggolawe (KPR) Tuban, Nunuk Fauziyah, kepada wartawan, Senin (21/8/2015).
"Dulu rambutnya (korban) funky, sekarang terlihat lusuh, rambutnya dirobohkan," lanjutnya menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi pada diri korban.
"Sebelumnya (korban) ceria banget, setiap selesai sekolah membantu kerabatnya berjualan di Pasar Babat, lalu setelahnya pulang untuk bersih-bersih rumah, dan bermain dengan teman-temannya."
Perubahan kepribadiian korban juga dibenarkan sang ayah, Kusno (43). Menurut petani desa itu, korban kini selalu ketakutan kalau-kalau akan dipukuli lagi.
"Dia bilang selalu takut kalau-kalau akan dipukuli lagi. Trauma, takut ketemu orang," ungkap Kusno, saat ditemui detikcom di kantor KPR Tuban.
Kusno berharap, kasus kekerasan yang menimpa anaknya diusut secara tuntas. Sementara pelaku kekerasan harus dihukum dengan adil dan sesuai aturan. Diharapkan pula keamanan sang anak mendapat perlindungan, secara mental maupun fisik.
"Pelakunya dihukum dengan adil dan sesuai aturan," pintanya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SMPN 2 Widang berinisial VA (13), asal Desa Patihan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, telah disekap dan dianiaya oknum polisi di dalam sel tahanan Mapolsek Widang. Bocah ingusan itu dipaksa mengakui perbuatan kriminal yang tidak pernah dilakukannya sama sekali.
Selama dalam penyekapan, korban juga sempat ditodong pistol pelaku serta diancam akan dibunuh. Meski akhirnya dilepas karena tidak terbukti bersalah, korban sudah terlanjur babak belur dan mengalami trauma berat. (bdh/bdh)











































