Dalam aksinya, para sopir membawa seluruh armada truknya, lalu diparkir di lapangan barat Stadion Diponegoro, Banyuwangi.
Massa yang tergabung dalam Asosiasi Armada Material Banyuwangi (AAMB) ini juga membawa spanduk bernada protes. Isinya menuntut seluruh penambangan pasir segera dibuka.
"Sudah 2 minggu penambangan pasir ditutup, kami tak bisa bekerja. Hari ini, kami ingin solusi dari Pemkab dan DPRD," kata Zaenuri, Ketua AAMB.
Pria ini mengaku tak mengetahui alasan penutupan seluruh tambang pasir. Menurutnya, kebijakan ini muncul sejak Kapolres Banyuwangi yang baru.
Dampaknya, seluruh sopir tak bisa bekerja karena material bangunan, mulai pasir, tanah uruk dan batu tutup total.
‎Aksi demo sopir truk material di Pemkab Banyuwangi membuahkan hasil. Saat menemui pendemo, Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas berjanji akan memperjuangkan aspirasi para sopir bisa segera bekerja lagi.
"Kita akan berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Timur untuk bisa membuka lagi penambangan pasir di Banyuwangi,"ujarnya dihadapan para sopir itu.
Bupati Anas menegaskan pihaknya memahami keluhan para sopir. Pihaknya berjanji secepatnya memanggil pengusaha tambang dan berkoordinasi dengan provinsi.
Sebab, sejak Desember 2014, izin penambangan menjadi wewenang provinsi. Di Banyuwangi kata dia ada 91 titik penambangan galian C, dari jumlah itu hanya 9 yang berizin. Namun, izinnya seluruhnya sudah habis.
Terkait kondisi ini, para sopir memberikan deadline seminggu bagi Bupati. Jika tambang tak dibuka, mereka mengancam akan menggelar aksi demo yang lebih besar lagi. (bdh/bdh)











































