Sebelumnya memang Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur sudah berencana melakukan penangkapan untuk mengevakuasi buaya yang diduga habitatnya terganggu dengan pembuangan lumpur lapindo ke Kali Porong.
Namun upaya BKSDA yang telah mendatangkan perangkap serta senapan bius untuk menangkap buaya itu kandas karena mendapat perlawanan warga. "Warga dan bupati sepakat menolak evakuasi," kata Kepala Seksi III Surabaya BKSDA Jatim Wiwied Widodo kepada detikcom, Jumat (12/6/2015).
Bupati, kata Wiwid, menginginkan Kali Porong sebagai kawasan esensial atau kawasan konservasi dan perlindungan habitat buaya dengan alasan terpenuhinya persediaan pangan dan kondisi air yang memungkinkan untuk buaya muara tersebut.
Penampakan buaya ini juga dinilai warga mendatangkan rezeki. Setiap hari di lokasi penampakan banyak didatangi warga yang ingin menonton. "Ya bagaimana lagi, warganya ingin agar perekonomian meningkat dengan banyaknya orang yang datang ingin menonton dan jadi tempat wisata di sana," katanya.
Warga juga sudah tandatangan untuk bersedia menjaga kawasan tersebut dan menjamin tidak ada konflik dengan buaya ke depannya.
"Ya itu permintaan warga, saya sudah sampaikan mengenai bahaya buaya muara dan daya jelajahnya, termasuk ketika habitat mereka terganggu seperti apa," terang Wiwid.
Bahkan Wiwied juga telah panjang lebar memberikan contoh tentang jatuhnya korban-korban manusia yang dimangsa buaya muara di berbagai lokasi di luar Jawa.
"Korbannya orang memancing, orang mencuci di tepi sungai atau mencari ikan. KIta kan nggak tahu buaya-buaya itu terganggu seperti apa. Nah di sepanjang Kali Porong kan juga banyak aktivitas warga. Jadi saya minta dengan sangat tetap berhati-hati dan waspada penuh," kata Wiwied.
Dari pengalaman yang ada, kata Wiwied, buaya yang telah memangsa manusia adalah jenis buaya muara seperti buaya yang muncul di Kali Porong tersebut.
"Buaya muara yang familiar memangsa manusia, yang jenis lain nggak ada," katanya.
Menurut Wiwied, buaya-buaya muara meski saat ini belum ada konflik dengan warga namun tidak bisa disepelekan begitu saja. Sangat besar kemungkinan, buaya-buaya itu bisa naik ke darat atau ke permukiman bila persediaan pangannya tidak mencukupi.
"Buaya ini hidup tidak lama di air, 20 menit maksimal di dalam air. Buaya bisa naik ke darat mencari pakan ke permukiman dan itu bisa berkonflik dengan manusia," kata Wiwied yang mengaku sudah mensosialisasikan kepada warga tentang ancaman itu.
Namun meski evakuasi batal dilakukan, kata Wiwied, Tim BKSDA tetap rutin dan serius melakukan pemantauan di Kali Porong. "Kita tidak boleh lengah dan tetap wajib waspada penuh," katanya.
Halaman 2 dari 2











































