Dari jumlah itu, sekitar 1200an orang mengalami gangguan jiwa atau psikopat. Namun sebagai bentuk tanggungjawab negara harus hadir, maka berbagai upaya dilakukan untuk bisa memaksimalkan gedung Liponsos Keputih.
Untuk mengatasinya memanfaatkan lahan kosong dan melakukan penambahan bangunan untuk menampung psikopat, gelandangan, pengemis serta anak jalanan yang jumlahnya kemungkinan bisa bertambah.
"Ya kita tambah bangunan dan memanfaatkan ruangan kosong yang lama tidak dipakai untuk difungsikan kembali," kata Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo saat berbincang bincang dengan detikcom, Sabtu (6/6/2015).
Ruangan kosong yang dimaksud mantan Camat Kenjeran ini adalah ruangan yang sebelumnya untuk menampung para warga lanjut usia yang kini sudah diboyong ke Griya Werdha di Medokan Ayu.
Sedangkan penambahan bangunan, lanjut Supomo, seluruh proses lelang sudah selesai dan dalam tahap pembangunan.
"Kita punya luas lahan 7.250 meter persegi dan masih ada lahan kosong yang saat ini kita bangun. Saya lupa berapa luas lahan yang kini dibangun gedung baru," imbuhnya.
Meski overload, Supomo berjanji layanan yang diberikan tetap optimal dengan memberikan makanan 4 sehat 5 sempurna sebanyak 3 kali sehari serta hunian sementara yang layak dan bersih.
Jumlah penghuni yang terus bertambah ini karena Satpol PP rajin merazia gelandangan dan pengemis yang sebelumnya banyak bertebaran di Surabaya. Mereka yang terjaring, dibawa ke Liponsos Keputih. "Ada juga terlantar namun ditemukan warga kemudian dilaporkan ke dinsos, ya dibawa ke Liponsos," kata Supomo.
Sampai kapan mereka tinggal di Liponsos? "Yang sakit jiwa atau psikopat ya dirawat sampai kapanpun. Kan kebanyakan kalau punya keluarga ya tidak mau ngambil atau kalau sudah sembuh dikembalikan tapi ditolak keluarganya," terang Supomo.
(ze/ugik)











































