Dari ketiga korban yang tertimpa musibah, dua korban kondisinya kritis. Mereka yakni Suwardi (55) dan Suharno (54) keduanya warga Desa Kaitrejo. Keduanya menderita luka di kepala, wajah dan beberapa bagian tubuhnya patah.
Sedang satu korban bernama Suratmin (40) hanya mengalami luka ringan. Kedua korban kritis kini dirawat di Puskesmas Widodaren.
Peristiwa ambrolnya jembatan setinggi 25 meter, panjang 30 meter dan lebar 4 meter tersabut terjadi saat puluhan pekerja sedang melakukan pengecoran. Usai pengecoran, para pekerja langsung beristirahat.
Namun tiga pekerja yakni Suwardi, Suharno dan Suratmin masih melakukan aktivitas di atas jembatan. Tak lama kemudian terdengar suara besi penyangga jembatan patah. Mendengar pertanda buruk itu, puluhan pekerja langsung berhamburan menyelamatkan diri.
"Ada suara patah, warga langsung lari. Nggak tahunya yang tiga orang masih di atas jembatan," kata Jayus, pekerja jembatan kepada detikcom di lokasi.
Beberapa detik kemudian, jembatan langsung ambrol. Naas menimpa ketiga korban yang saat itu belum sempat menyelamatkan diri, akhirnya ikut terjatuh ke dasar sungai.
"Saya nggak tahu, pas lagi mlester di atas jembatan tiba-tiba ambrol. Saya langsung jatuh bersama dua teman saya," ujar Suharno, salah satu korban luka.
Diduga jembatan yang menelan dana Rp 250 juta hasil swadaya masyarakat ambrol karena salah konstruksi. Pasalnya, jembatan sepanjang 30 meter hanya diberi dua penyangga yang jaraknya sekitar 20 meter.
Jembatan tersebut dibangun warga agar jarak dua desa bisa lebih dekat. Pasalnya jika memutar jarak yang ditempuh bisa mencapai 5 Km. Sedangkan jika melewati jembatan hanya bisa ditempuh 1 Km. (fat/fat)










































