Seperti yang dirasakan warga yang tergabung di Paguyuban Warga Renokenongo Menolak Kontrak (Pagar Rekontrak). Sekarang mereka sudah menempati desa yang baru yakni Kampung Renojoyo yang berada di Desa Kedungsolo, Kecamatan Porong, Sidoarjo.
Desa baru itu berjarak sekitar 5 Kilometer dari Renokenongo yang sekarang sudah menjadi danau lumpur.
Pada 2006 ketika lumpur mulai meluap, warga yang berasal dari Desa Renokenongo di Kecamatan Porong, itu mengungsi di pasar baru Porong selama 2 tahun setelah tanah kelahirannya ditenggelamkan lumpur.
Kemudian setelah ada pembayaran 20 persen dari PT Minarak Lapindo Brantas, perusahaan yang dibentuk Lapindo untuk menangani ganti rugi, warga pun berusaha mencari lahan untuk tempat tinggal barunya.
Berawal itulah para warga sepakat dan kompak untuk membeli secara bersamaan dengan tujuan bahwa warga satu kampung ini tetap berkumpul seperti dahulu.
Menurut salah satu penggagas ide tersebut adalah Yudo Wintoko (40). Warga asal warga Rt 04/01 Desa Renokenonggo menjelaskan bahwa semua penghuni di Desa Renojoyo ini adalah warga asli dari Renokenonggo yang tergabung dalam Pagar Rekontrak.
Setelah warga mendapatkan pambayaran awal 20 persen, kemudian ada infestor yang juga warga korban lumpur membeli tanah seluas 10 Hektar yang kemudian dikavling dengan ukuran panjang 15 meter dan lebar 8 meter.
Namun setelah membeli tanah tersebut warga sempat bingung bagamana cara membangung rumahnya. "Alhamdullah ada jalan keluarnya, warga di bantu oleh pihak Bank Jatim dan dari REI dengan di prakarsai oleh Bapak Gubernur Jatim mendapat pimjaman lunak khusus, warga korban lumpur dan di bangunkan rumah dengan tipe 36," katanya, Kamis (28/5/2015).
Dengan angsuran super ringan, warga bisa menikmati hunian barunya. Hingga saat ini yang tinggal di temnpat yang baru itu sekitar 550 unit rumah dan dihuni sekitar 700 kepala keluarga, dibagi menjadi 20 blok dari blok A sampa Blok S
"Setelah 9 tahun semburan lumpur Lapindo berlangsung namun warga yang sudah bisa melunasi angsurannya sekitar 40 persen saja," terang Yudo Wintoko.
Warga yang lain, Pitanto (53) asal Rt 10/03 Desa Renokenonggo mengaku belum bisa melupakan tragedi semburan lumpur yang menenggelamkan kampungnya.
"Saya selalu inggat kampung halaman, apalagi menjelang hari raya Idul Fitri, teringat kedua orangtua sudah meninggal dunia dan pemakamannya sudah hilang karena tenggelam," katanya.
Bahkan, dirinya sering bingung ketika terbangung dari tidurnya. Ia merasa aneh di tempat tinggal barunya. "Saya ini setiap tidur kalau mimpi itu seperti di desa asal, dan kalau bangun tidur secara mendadak itu juga bingung saya ini tidur di mana," ungkap Pitanto.
Semburan lumpur Lapindo pada 29 Mei 2006 itu telah menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan di Sidoarjo yakni Porong, Jabon dan Tanggulangin. Warga terusir dari kampung halamannya dan sekarang tersebar di berbagai tempat dan sebagian masih menanti pelunasan ganti rugi.
(Budi Sugiharto/Budi Sugiharto)











































