Begini Jawaban Calon Rektor Unair Saat Dites Para Pejabat

Begini Jawaban Calon Rektor Unair Saat Dites Para Pejabat

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Senin, 25 Mei 2015 21:07 WIB
Begini Jawaban Calon Rektor Unair Saat Dites Para Pejabat
Surabaya - Sejumlah pejabat dan mantan pejabat datang ke debat publik pemilihan calon rektor Universitas Airlangga (Unair). Oleh Chairul Tanjung yang menjadi moderator, mereka diberi kesempatan mengajukan pertanyaan kepada ketiga carek tersebut.

"Pak Sudi Silalahi silakan mengawali bertanya," ujar CT menyilahkan di acara debat publik di Ruang Garuda Mukti Gedung Rektorat Unair, Kampus C, Senin (25/5/2015).

Mantan Mensesneg tersebut mengajukan pertanyaan, jika jadi rektor, apa yang harus diimplementasikan agar lulusan Unair jadi intelektual yang bermoral.

Nasih yang mendapat kesempatan pertama menjawab bahwa moral sudah diajarkan Unair sedari awal. Dalam kurikulum Unair, ada pelajaran moral yang dimasukkan dalam konten-konten mata kuliah yang berisi aspect morality.

"Saat perekrutan, akan ada tes moral sehingga terjaga," ujar Nasih.

Umi yang mendapat giliran selanjutnya menjawab bahwa saat menerima mahasiswa baru, harus ada training kesiapan. Calon mahasiswa yang mempunyai kelebihan misalnya prestasi mengaji bisa jadi akan lebih diutamakan.

"Nantinya kuliah tidak hanya transfer of knowledge tetapi juga mengubah mindset," ujar Umi.

Sementara Djoko Santoso mengatakan bahwa attitude (sikap) memang penting dalam pendidikan. Djoko menerapakan SPICE untuk peningkatan moral yakni S untuk Student oriented yakni memacu mahaiswa untuk terus aktif, P untuk Problem peace yakni pembelajaran dari suatu kasus, I untuk Integrated yakni pelibatan pihak lain dalam suatu kasus, C untuk Community oriented yakni pertanggungjawaban.

"Dan E untuk Elective yakni kebutuhan. Tidak semua kebutuhan yang diambil, tetapi yang benar-benar butuh saja," ujar Djoko.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang mendapat giliran bertanya menanyakan tentang bagaimana dana untuk membangun Unair diperoleh dan bagaimana tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan masuk ke Indonesia.

Djoko yang mendapat giliran pertama mengatakan bahwa dana untuk Unair bisa diperoleh lewat hibah pendidikan, hak paten (royalti), dan insentif.

"Yang 30 persen kan dari masyarakat (mahasiswa). Kalau bisa itu harus diturunkan," kata Djoko.

Untuk MEA Djoko mengaku Unair telah siap dengan MEA. Yang harus dilakukan adalah meningkatkan daya saing dan memberikan servis yang lebih baik. Nasih sendiri memberikan jawaban jika dana untuk membangun Unair bisa didapatkan melalui university holding. University holding adalah lanjutan dari penelitian yang menjadi bisnis.

"Ini sumber uang. Percuma jika mentok di jurnal ilmiah. Harus dikonkretkan menjadi bisnis," ujar Nasih.

Untuk MEA, Nasih berpendapat bahwa Unair harus mampu mengajarkan dan meluluskan mahasiswa yang tidak konsumtif sehingga tidak perlu membeli dari luar.

"Kita kan juga punya fakultas ilmu budaya yang bisa digunakan untuk menyaingi apa yang datang dari luar," pungkas Nasih.

Sementara Umi mengatakan bahwa harus dilakukan mapping untuk semua fakultas yang mempunyai potensi untuk mengahsilkan pemasukan. Dengan koordinasi yang baik, tiap-tiap fakultas bisa menghasilkan pemasukan untuk membangun Unair.

"Kalau untuk MEA, kita harus mamadukan idealisme dan pragmatisme," ujar Umi.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga mendapat kesempatan bertanya. Risma ingin agar Surabaya bisa menjadi seperti Korea yang pemerintah, swasta, Universitas, dan masyarakat bisa bersatu padu membangun negaranya. Risma yakin majunya Korea karena banyaknya peneltian. Risma ingin agar Indonesia jadi laboratorium hidup.

Umi yang mendapat giliran pertama menjawab bahwa sekali lagi mapping diperlukan antar fakultas. Nantinya fakultas akan bekerjasama dengan Pemkot Surabaya untuk semua riset yang diperlukan sehingga ada policy di dalamnya.

"Jadinya win-win solution," ujar Umi.

Djoko sendiri mengatakan bahwa kerjasama dengan Pemkot Surabaya bisa dilakukan dengan peneltian terapan. "Ada komunitas dan binaan untuk setiap fakultas," ujar Djoko.

Nasih mengibaratkan Unair sebagai supermarket. Sehingga jika Pemkot Surabaya membutuhkan sesuatu, tinggal diambil saja yang diperlukan.

"Kami sering berpartner dengan Pemkot Surabaya dalam hal apapun seperti misalnyasurvey politik, membina anak-anak yang putus sekolah, hingga procurrement," ujar Nasih.

Saat Mahfud MD diberi giliran bertanya, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu bertanya kepada Nasih mengapa universita yang mencerdaskan bangsa masih meluluskan orang-orang yang melakukan korupsi.

"Yang korupsi-korupsi itu kan lulusan kampus semua. Semakin besar S (strata) nya semakin banyak pula korupsinya," ujar Mahfud.

Mendapat pertanyaan itu Nasih mengatakan bahwa anggapan itu tidak boleh digeneralisir. Korupsi, kata Nasih, sifatnya adalah personal dan jumlah koruptor juga tidak signifikan.

"Jumlah lulusan universitas yang berprestasi jauh lebih banyak. Tetapi jika menemui lulusan Unair yang melakukan tindakan tidak benar, mari kita ingatkan dan bina," kata Nasih.

Untuk Djoko, Mahfud bertanya jika di luar negeri, mahasiswa tidak berkualitas diberi tempat. Apakah Unair bisa seperti itu. Mahfud mencontohkan dengan kualitas lulusan SMA di Papua bisa jadi sama dengan lulusan SMP di Jawa. Apakah lulusan dari Papua itu tak bakal berkuliah di Unair.

Djoko mengatakan bahwa mungkin saja untuk kasus ini bisa dikecualikan dan membutuhkan perlakuan khusus. "Tetapi kami juga ada warning untuk terus menjaga kualitas mahasiswam" kata Djoko.

Dan kepada Umi, Mahfud menanyakan tentang maraknya plagiat yang tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa, tetapi juga pada dosen. Masih banyak ditemukan ketidaktelitian dosen membuat plagiarisme semakin berkembang.

Umi menjawab bahwa ada promotif dan preventif dalam kasus tersebut. Promotif adalah karya tulis atau ilmiah yang selain logis dan sistemik, juga ada unsur kejujuran di dalamnya. Diharapkan setiap penulis bisa berkarya dengan mengacu pada kejujuran itu.

"Dan untuk ketidaktelitian dosen, preventif mungkin sebabnya. Preventif adalah berapa kapasitas dosen untuk melakukan pembimbingan," ujar Umi.

(Imam Wahyudiyanta/Rivki)
Berita Terkait