Bagaimana tidak, banjir itu membuat sepeda motor mogok lantaran mesin kemasukan air. Ada pula yang tidak ma berlama-lama terjebak macet memilih menyewa jasa penyeberangan meski harus membayar mahal.
"Rp 25 ribu sekali menyeberangkan motor. Ini sudah empat kali Pulang-Pergi (PP) saya," kata Usman, warga sekitar sembari menaikkan motor ke atas becak.
Dalam kurun waktu sebulan, banjir terjadi di kawasa tersebut sebanyak 3 kali. "Saya manfaatkan saja banjir ini untuk membantu warga yang motornya tidak ingin rusak karena banjir," tambahnya.
Sementara, akibat banjir yang memacetkan arus lalu lintas hingg 5 Km ini dikeluhkan sopir truk. Mereka terpaksa menginap di dalam truk sejak pukul 21.00 WIB, Kamis (30/4). Banyak diantaranya yang mengeluh karena kejadian serupa kerap terjadi.
"Saya terjebak sejak pukul 02.00 WIB, ya tidur aja di truk," kata Sodiq, sopir truk Pertamina L 9160 UR.
Sodiq mengaku sebenarnya kendaraannya masih bisa menerobos banjir namun dihentikan polisi. Ia hanya bisa menunggu sembari membersihkan kendaraannya yang terkena banjir.
Banjir ini akibat meluapnya Sungai Welang yang tak mampu menampung debit air karena hujan lebat di hulu sejak kamarin. Sejak air merendam jalan raya, polisi menghentikan semua kendaraan dari kedua arah baik dari Probolinggo maupun Surabaya.
"Agar kemacetan tidak semakin parah, semua kendaraan dari arah Probolinggo kita arahkan ke arah Warungdowo nanti tembus pertigaan Purwosari, sementara dari arah Surabaya sudah kita koordinasikan dengan petugas di sana untuk menghadang di Gempol dan semua kendaraan dialihkan ke arah Bundaran Apollo," kata Kasatlantas Polres Pasuruan Kota, AKP Sumino.
Pihaknya menerjunkan kekuatan penuh Satlantas sebanyak 70 personel untuk mengatur dan mengamankan jalur. Banjir di lokasi ini kerap terjadi di musim penghujan.
Banjir ini juga merendam ratusan rumah di Kelurahan Karangketug Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan dan di Desa Tambakrejo Kecamatan Kraton.
(fat/fat)











































