"Terakhir komunikasi dengan bapak waktu habis magrib. Nggak ada pesan apa-apa, hanya saya disuruh untuk buka puasa (puasa bulan rajab). Jam 12 malam, ada telepon kalau suami saya kecelakaan," ujar Aisiyah, istri kroban, usai penyerahan santunan dari PT Blue Bird Tbk di poll Jalan Darmo Kali, Surabaya, Rabu (22/4/2015).
M Rusdi bekerja sebagai sopir taksi Blue Bird sejak 2 tahun 11 bulan. Sebelumnya Rusdi sempat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi menjadi sopir. Kemudian balik ke Indonesia, dan sempat menganggur selama setahun.
Keluarga juga tidak tahu, apakah bapak dua anak ini bertengkar dengan orang lain, dan tidak pernah menceritakan permasalahan yang terjadi di pekerjaan atau di luar rumah.
"Selama ini sampai punya anak dua, nggak pernah bercerita apa-apa. Nggak pernah bercerita punya musuh atau pernah bertengkar," tuturnya sambil menangis sedih ditinggalkan suami tercintanya.
Rusdi dikenal pekerja keras dan sebagai suami yang bertanggungjawab. Bahkan, rela bekerja lembur selama 4 hari, demi mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan anak keduanya yang menempuh pendidikan di kelas 1 madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) di sebuah pondok pesantren di Bangil, Kabupaten Pasuruan.
"Biasanya kalau kerja 2 hari libur sehari. Tapi mau lembur sampai 4 hari, biar ada uang untuk kiriman anaknya di pondok. Saya sudah bilang jangan memaksa, tapi tetap nggak mau," terangnya.
Aisiyah juga mengucapkan terima kasih kepada manajemen dan rekan-rekan suaminya di Blue Bird, yang telah memberikan bantuan, termasuk untuk biaya pendidikan anak keduanya. Sedangkan anak pertama Rusdi sudah bekerluarga dan dalam kondisi hamil.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, M Rusdi, pengemudi taksi Blue Bird ditemukan tewas di dekat taksinya di Jalan Kalisosok, Surabaya. Warga Karanganyar, Kabupaten Bangkalan ini ditemukan tewas dengan kondisi luka gorok di lehernya, pada Senin (20/4/2015) sekitar pukul 22.00 wib.
(roi/bdh)











































