Rayakan Hari Kartini, Peselancar Pacitan Surfing dengan Kostum Kebaya

Rayakan Hari Kartini, Peselancar Pacitan Surfing dengan Kostum Kebaya

- detikNews
Selasa, 21 Apr 2015 18:06 WIB
Rayakan Hari Kartini, Peselancar Pacitan Surfing dengan Kostum Kebaya
Foto: Purwo S
Pacitan - Hari beranjak siang saat Salini Rengganis (16) melenggang ke tepi pesisir di Pantai Teleng. Tanpa memedulikan panas matahari yang menyengat, dia terus melangkah di hamparan pasir. Kaki kanannya terikat dengan seutas tali yang terkait pada papan selancar yang dibawanya dengan tangan kanan.

Uniknya, kostum yang dia kenakan bukanlah pakaian surfing, melainkan kebaya. Inilah cara peselancar perempuan Pacitan merayakan Hari Kartini.

"Yang memotivasi dari RA Kartini membuat aku bisa lebih semangat lagi ke depannya untuk lebih semangat surfingnya termasuk sukses di bidang lain," kata Salini berbincang dengan detikcom, Selasa (21/4/2015) siang.

Sebagai atlet selancar profesional, menaklukkan ganasnya gelombang adalah hal biasa. Apalagi jam terbangnya yang cukup lama, membuat gadis berkulit legam itu sangat memahami karakter laut.

Namun kali ini, kondisinya agak berbeda. Beberapa kali dia terpaksa melewatkan ombak besar. Ini karena kebaya yang dipakai menyebabkan gerakannya kurang leluasa.

Toh itu tidak berlangsung lama. Berbekal kepiawaian yang dimiliki, Salini akhirnya mampu meluncur sambil berdiri di atas papan selancar di antara debur ombak Pantai Selatan. Sesekali tubuh mungilnya tergulung pusaran gelombang dan sedetik kemudian muncul lagi. Adegan itu terjadi berulang-ulang hingga memicu decak kagum mata yang melihat. Meski 45 menit bergulat dengan ombak, tubuh Salini tetap bugar. Senyum puas pun membuncah saat dirinya kembali ke daratan.

"Sensasinya susah pasti, tapi karena saking semangatnya semua hambatan terasa mudah. Kebetulan salah pilih bawahan jadi suka keserimpet dan kegulung ombak," tuturnya.

Kehebatan Salini tak lepas dari gemblengan sang ayah sekaligus pelatih pribadinya, Wijanarko Dewo. Semangat menjadikan anak semata wayangnya perempuan tangguh dan menguasai semua bidang yang mampu dikerjakan kaum pria membuat Wiwit menerapkan disiplin tinggi.

Doktrin emansipasi itulah yang ditanamkannya sejak Salini kecil. Si bocah pun tumbuh lebih mandiri sebab ibunya meninggal saat Salini baru berusia 3 hari.

Wiwit pun mengaku bangga atas capaian Salini selama ini. Namun dibalik prestasi, pria pembuat papan selancar itu tak henti menanamkan kecintaan kepada alam semesta serta kewajiban mendarmabaktikan hidup untuk Ibu Pertiwi.

"Emansipasi wanita kita tanamkan sejak dia kecil. Karena perempuan harus mandiri. Saya cuma pingin mengantarkan dia menjadi yang terbaik dan berguna bagi negeri ini," ujar Wiwit bangga.

Meski jauh dari ingar bingar perayaan dan pesta pora, peringatan Hari Kartini di Pacitan tetap tak kehilangan makna. Zaman memang berubah. Peran wanita tidak lagi dipandang sebelah mata. Dan Salini adalah satu diantara wanita Indonesia lain berupaya mewujudkan cita-cita sang pahlawan pelopor emansipasi. Selamat Hari Kartini!

(bdh/bdh)
Berita Terkait