Dalam aksi ini, para nelayan berharap Bupati Banyuwangi Abdulah Azwar Anas berani menolak pengerukan pasir untuk reklamasi Teluk Benoa.
"Pemprov NTB dan Gubernur Jawa Timur sudah menolak pengerukan pasir untuk reklamasi Benoa. Bupati Banyuwangi kami harap juga ikut menolak," kata koordinator aksi Afif Toha, Senin (13/4/2015).
Selama aksi, nelayan berkeliling di tempat pelelangan Muncar. Secara spontan, para nelayan berebut membubuhkan tanda tangan di dua kain putih besar. Aksi ini ditargetkan mendapatkan 2015 tanda tangan nelayan. Angka ini, sambung Afif, berkaitan dengan tahun rencana pengerukan pasir di pesisir Banyuwangi.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur, Ony Mahardika menambahkan, pengerukan pasir laut di Banyuwangi akan mengancam kelestarian kawasan pantai dan laut di wilayah tersebut. Ekosistem Pantai dan pesisir seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan sumber daya hayati yang terkandung di dalamnya. Tak hanya itu, kehancuran ekologi kawasan pantai dan pesisir akan menimbulkan dampak yang luas.
"Ancaman lainnya seperti hilangnya biota laut yang menjadi sumber pendapatan masyarakat pesisir, serta ancaman bencana ekologis seperti abrasi dan banjir rob," tegas Ony.
Kawasan Srono, Rogojampi dan Kabat yang rencananya akan dikeruk pasirnya merupakan wilayah yang berada di dekat kawasan Muncar. Daerah ini dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia.
Data BPS 2014, ada 12.714 jiwa yang berprofesi sebagai nelayan. Di wilayah Srono, Rogojampi dan Kabat sendiri, setidaknya 1.488 warganya bekerja di sektor perikanan. Jumlah tersebut belum memperhitungkan tenaga kerja yang bekerja pada 309 Unit Pengolahan Ikan yang tumbuh di wilayah tersebut. Di Pelabuhan Muncar saja ada 27 industri penepungan ikan, 13 industri pengalengan ikan dan 27 unit pembekuan ikan.
(fat/fat)











































