Pria 52 tahun itu harus gigit jari, setelah uang Rp 10 juta tiba-tiba raib di rekening pribadinya. Uang sebanyak itu hilang, setelah dipandu seseorang melalui mesin ATM yang berdalih mengirim uang transportasi atas undangan yang mengatasnamakan BNPB di Jakarta.
"Undangannya dikirim lewat email. Kami percaya karena di undangan itu juga ada tanda tangan Kepala BNPB (Syamsul Maarif, red)," kata Zainul Arifin kepada detikcom, Minggu (12/4/2015).
Menindaklanjuti undangan itu, Zainul Arifin kemudian menerima telepon yang juga mengatasnamakan pejabat BNPB di kantor Bank Indonesia. Dengan dalih akan mengirim uang transport.
Orang tak dikenal itu kemudian meminta Zainul Arifin segera ke mesin ATM BRI. Melalui mesin ATM tersebut, PNS asal Desa Trebungan Kecamatan Mangaran itu dipandu memencet tombol-tombol di mesin ATM.
"Saya dipandu mencet ini, mencet itu. Saya percaya karena tidak mentransfer. Saat itu orangnya berlagak buru-buru sambil sesekali membentak. Dia bilang 'ayo buruan, saya tidak hanya memikirkan transfer ke Situbondo saja. Masih banyak kerjaan lain'. Jadi saya agak gupuh (Tergesa-gesa)," tutur Zainul.
Tak lama berselang, orang di ujung telpon mendadak menutup telponnya, karena beralasan transfer melalui BRI sedang error. Zainul terperangah, karena saat itu saldo di rekeningnya sudah berukurang Rp 10 jutaan. Setelah kejadian tersebut, Zainul segera konfirmasi kebenaran undangan BNPB tersebut.
"Waktu dikonfirmasi ke BNPB di Jakarta, ternyata tidak ada undangan. Untung saya belum beli tiket pesawat. Jadi itu hanya modus penipuan," tukas Zainul.
Sadar telah diperdaya, Zainul Arifin melalui stafnya di BPBD Situbondo, Ika Budi Cahyono (43), melaporkan kejadian itu ke Mapolres Situbondo.
"Laporan dugaan penipuan sekarang dalam penanganan intensif penyidik Reskrim. Saat ini masih dilakukan penyelidikan," tegas Kasubbag Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priambodo.
(fat/fat)










































