detikNews
Kamis 02 April 2015, 17:58 WIB

Ini Tanggapan Dinkes Banyuwangi Soal Tiga Lokasi Industri Jamu Digerebek

- detikNews
Ini Tanggapan Dinkes Banyuwangi Soal Tiga Lokasi Industri Jamu Digerebek Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Tiga titik industri jamu mengandung Bahan Kimia Obat (BKO) di Kecamatan Muncar dan Srono digerebek Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) didampingi Mabes Polri dan Polda Jatim.

Data dari BBPOM Surabaya yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi, hingga 2015 sedikitnya ada 26 industri jamu yang mengantongi izin resmi. Namun, dengan kemudahan para pelaku produsen jamu BKO melakukan pembelian obat keras (obat daftar G=gevaarlijk= berbahaya) dipasaran membuat industri jamu BKO menjadi semakin tumbuh subur di Banyuwangi.

Lalu, bagaimana tanggapan dari Dinkes Banyuwangi? Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Banyuwangi dr Widji Lestariono menuturkan jamu mengandung BKO pada umumnya diberi campuran kimia obat seperti Dexa Metasone, Penilbutasone, Antalgin, Asam Mefenamat, Aminofilin dan masih banyak lainnya.

Ragam obat ini menjadi berbahaya jika diberikan tidak dalam pengawasan dokter. Selain itu untuk mendapatkan obat-obat tersebut juga diperlukan resep dokter.

"Obat-obatan ini tidak boleh sembarangan (pembelian dan pemakaian) dan harus dalam pengawasan dokter. Jika dalam jangka waktu lama efeknya full moon face dan menurunkan daya imunitas," jelasnya pada detikcom, Kamis (2/4/2015).

Pria yang akrab disapa dr Rio itu menuturkan, jika jamu mengandung BKO tumbuh subur, pihaknya mendesak agar Polres Banyuwangi segera mengambil langkah untuk melakukan penyelidikan dalam hal ini. Terutama dalam penelusuran asal muasal penjualan bebas obat daftar G.

"Beli di apotik dalam jumlah besar tidak mungkin. Seharusnya ini sudah menjadi ranah yang harus diselidiki (Kepolisian) karena produsen jamu membutuhkan obat daftar G dalam jumlah yang besar. Dari mana mereka dapat obat-obat tersebut. Ini yang menjadi pertanyaan," tegasnya.

Temuan BPOM, industri jamu di Banyuwangi tak hanya ditemukan jamu mengandung BKO saja, tetapi juga pemalsuan ijin produksi. Sesuai dengan UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan bahwa obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, dan bahan mineral. Bagi pelanggarnya akan dikenakan sangsi pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Sementara berdasarkan UU No 8 tahun 1999, pasal 62, produsen yang memproduksi produk yang membahayakan konsumen maka akan diberi hukuman penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 2 miliar.

  • Ini Tanggapan Dinkes Banyuwangi Soal Tiga Lokasi Industri Jamu Digerebek
    Foto: Putri Akmal
  • Ini Tanggapan Dinkes Banyuwangi Soal Tiga Lokasi Industri Jamu Digerebek
    Foto: Putri Akmal

(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com