Permasalahan pasar wajib segera dicarikan solusi. Jika dibiarkan, masalah ini akan menyebabkan matinya sektor usaha mikro. Pemerintah Kota Surabaya melalui PD Pasar Surya sudah berkali-kali menertibkan pedagang kaki lima atau pedagang yang hijrah ke luar pasar yang itu tentunya mengganggu pendapatan pedagang resmi yang berada di dalam pasar.
Pengamat Sosial Universitas Airlangga Prof dr Emy Susanti Dra, MA memandang penyelesaian pasar tradisional harus mengedepankan budaya pasar yang itu sangat melekat.
"Harus ingat bahwa pedagang pasar punya budaya. Mereka punya kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi apabila mereka harus masuk dalam pasar, tentunya harus ada yang mengakomodir kebutuhan mereka," kata Emy Susanti, Jumat (27/3/2015).
Menurut pengamatan Emy Susanti, pasar kebanyakan didominasi oleh kaum wanita. Maka kebiasaan wanita seperti menggosip, saling pinjam meminjam barang, hingga utang piutang memang tidak bisa ditinggalkan.
Jika mereka harus dikotak-kotakkan dalam stan yang disediakan pasar, kata dia, jelas akan membuat mereka terkekang dan tidak bebas.
"Dalam pasar ada pedagang lama dan ada yang baru. Nah seharusnya pedagang lama yang sudah dengan kebiasaan mereka, diberi hak untuk memilih tempat. Mereka mungkin tidak terbiasa naik tangga, atau bahkan dapat tempat tidak strategis, akan membuat mereka enggan untuk berjualan dalam pasar," komentar Emy.
Kini yang harus dilakukan pemerintah adalah tidak memperbolehkan PKL untuk berjualan di luar pasar. Jika hal ini dibiarkan, pasar tradisional di Kota Pahlawan lama kelamaan akan kosong akibat pedagang yang tidak betah akibat dagangan yang tidak laku.
"Harus ada ketegasan ya, PKL juga harus bersih, mereka diminta untuk masuk ke pasar. Dengan begitu akan lebih rapi," pungkasnya.
(gik/fat)











































