Seperti di Surabaya, Jawa Timur. Masih banyak pasar tradisional yang kondisinya masih jauh dari kesan nyaman. Tentunya, jika kondisi itu dipertahankan maka lambat laun akan membunuh para pasar, pembeli dan pedagang meninggalkannya.
Apalagi sekarang ini banyak pasar yang dikelola swasta atau toko moderen yang tumbuh subur dengan menawarkan segala keistimewaannya. Toko-toko moderen atau minimarket pun sudah memajang aneka sayur hingga kebutuhan sehari-hari.
Tentu pasar tradisional harus berbenah. Manajemen yang mengelola harus serius melakukan penataan. Pemerintah Kota Surabaya perlu segera turun tangan melakukan sentuhan agar pasar tradisional menggeliat kembali untuk bersaing dengan pasar moderen.
Di Kota Surabaya, terdapat 67 pasar tradisional yang dikelola oleh PD Pasar Surya, BUMD milik Pemkot Surabaya. "Di Surabaya lebih 32 ribu pedagang," kata Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya Zandi Ferryansa Hadi, Jumat (27/3/2015).
Sebuah tren yang tak bisa dipungkiri. Para pedagang yang ada di dalam pasar tidak sedikit yang memilih hijrah ke luar pasar. Dalihnya, mereka tidak memiliki banyak pembeli ketika harus berada di dalam pasar.
Pedagang pun memilih eksodus dari dalam pasar dan banting stir jualan di depan pasar karena dinilai lebih menguntungkan. Pedagang kaki lima pun berjibun di depan pasar. Dan fakta itu hampir terjadi di semua pasar yang dikelola PD Pasar Surya di Kota Pahlawan.
Data yang dikantongi BUMD pengelola pasar tradisional milik Pemkot Surabaya itu, jumlah pedagang yang eksodus dari dalam pasar antara lain terjadi di Pasar Kupang Gunung sebanyak 32 pedagang,Pasar Tembok Dukuh 11 pedagang.
Kemudian di Pasar Pakis 25 pedagang, Pasar Kapas Krampung 5 pedagang serta Pasar Genteng ada 20 pedagang yang tak lagi mau menempati di dalam pasar.
(gik/gik)











































