Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, mengatakan sejak dua tahun lalu pihaknya memberi beragam stimulus bantuan supaya para peternak mampu bangkit.
Bantuan itu semisal, anggaran APBD tahun ini sebesar Rp 2 miliar berupa pakan ternak. Anas mengakui hingga kini populasi sapi perah di Banyuwangi bisa dibilang belum optimal. Kecilnya populasi sapi perah berdampak pada minimnya produktivitas susu yang dihasilkan.
Selain kucuran APBD, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian juga ikut memberikan bantuan alat pendingin susu berkapasitas 2 ribu liter berikut perangkatnya senilai Rp 480 juta per unitnya. Bantuan itu diberikan kepada kelompok peternak sapi perah di Kecamatan Purwoharjo, Bangorejo, dan Genteng.
"Tidak bisa diserahkan pada pemda semua. Perlu ada inovasi dari kelompok peternak untuk meningkatkan populasi," kata Anas di sela-sela kunjungan kerja ke sentra peternakan sapi perah di Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Kamis (5/2/2015).
Permodalan mandiri yang rentan menghadapi fluktuasi harga susu sapi, kata Anas, merupakan salah satu kendala yang dialami peternak. Pihaknya berharap bantuan pemerintah bisa dimanfaatkan peternak untuk meningkatkan populasi sapi perah sekaligus kualitas produksinya.
"Kalau kualitas produksi susu bagus, harganya pasti mahal. Peternak harus menjaga kualitasnya," kata Anas.
Kepala Dinas Peternakan Banyuwangi, Heru Santoso, menuturkan, unit pendingin susu bantuan pemerintah pusat itu kini belum didukung populasi sapi perah yang memadai. Gabungan tiga kelompok peternak yang menyetor susu di Desa Kaligondo, hanya memiliki 100 ekor sapi perah. Dari jumlah ini, hanya 40-50 ekor sapi yang produktif menghasilkan susu segar.
"Kami akan membantu 30 ekor sapi dan pemerintah pusat siap bantu 20 ekor sapi," kata Heru.
Ketua Kelompok Tani Sumber Lumintu, Muhamad Nurfatoni, menambahkan, kualitas produksi susu segar yang dihasilkan kelompoknya, umumnya masuk kategori KW 1 dan KW 2. Ia menyetorkan susu segar ke PT Nestle di Pasuruan dengan harga bervariasi, mulai Rp 4.300 per liter untuk KW1, Rp 4.100 per liter untuk KW2, dan Rp 3.800 per liter untuk KW3.
"Kami kirim dua hari sekali ke Nestle. Jadi sebulan 15 kali kirim," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































