Kejari Bangil Tetapkan 'Makelar' Jasmas Jadi Tersangka

- detikNews
Selasa, 03 Feb 2015 14:23 WIB
Pasuruan - Kejaksaan Negeri Bangil, Pasuruan menetapkan Toni Heri Sulistiyo sebagai tersangka korupsi jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) tahun 2013. Kerugian negara akibat kasus ini mencapai 1,4 miliar.

Penetapan Toni, warga Desa Pandanrejo Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan ini berdasarkan keterangan beberapa saksi yang sudah dimintai keterangan oleh penyidik, termasuk keterangan seorang terdakwa kasus yang sama, Sugiarto di dalam persidangan. Sugiarto merupakan sopir atau karyawan Toni yang didakwa melakukan korupsi dana Jasmas.

"Penetapan tersangka berdasarkan fakta hukum di persidangan (Sugiarto) dan keterangan saksi-saksi," kata Kasie Pidsus Kejari Bangil Andy Sasongko, Selasa (3/2/2015).

Tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 UU Nomor 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001.

"Penyidik sudah melayangkan surat panggilan kepada tersangka namun yang bersangkutan mangkir. Selain sudah berstatus tersangka di Kejari Bangil, dia juga merupakan DPO Kejari Ponorogo kasus serupa," jelas Andy.

Penasehat Hukum Sugiarto, Suryono Pane, menuturkan, kliennya merupakan pihak yang dikorbankan dalam kasus korupsi penyaluran dana Jasmas di 14 titik di Kabupaten Pasuruan 2013 silam. Sugiarto, kata Suryono, hanya seorang karyawan yang tentu saja harus mematuhi perintah majikannya tanpa tahu resiko hukumnya.

"Sugiarto saat ini sudah menjadi terdakwa, padahal otaknya Toni, masih bisa berkeliaran di luar. Pasal 51 KUHP, karyawan yang menjalankan perintah pimpinan tak bisa dipidana. Klien saya nggak tahu apa-apa. Dia hanya disuruh ambil ini ambil itu, mengumpulkan KTP kesana kemari kemudian diberikan pada Toni. Tonilah yang membuat proposal untuk mencairkan dana Jasmas. Jadi kalau ada kerugian negara, Toni ini orang yang seharusnya bertanggungjawab," ujar Suryono.

Pada persidangan selanjutnya yang akan digelar pada Kamis depan, pihak Sugiarto telah meminta pada majelis hakim Tipikor Surabaya untuk memerintahkan jaksa penuntut memanggil Toni sebagai saksi kunci kasus korupsi Jasmas tersebut.

"Harus dibuka ini. Jangan-jangan selama ini Toni sengaja disembunyikan untuk melindungi orang-orang di atasnya yang terlibat," tandasnya.

Suryono mengatakan Toni bersama dua temannya, Jumain dan Sugianto, merupakan yang berperan sebagai fasilitator untuk mempermudah kelompok masyarakat (Pokmas) menerima dana Jasmas. Mereka bertiga menginventarisir data desa sasaran, seperti profil dan peta desa serta mengumpulkan KTP warga sebagai bahan proposal.

Modus korupsi ini, kata dia, yakni setelah dana masuk ke rekening Pokmas, kemudian diambil lagi oleh tersangka dan disetorkan ke pihak-pihak sebagai potongan. "Potongan untuk komisi setiap desa mencapai 50 hingga 60 persen. Jadi saya yakin orang-orang di atas (pemprov) juga terlibat. Kuncinya ada pada Toni," pungkasnya.

Gubernur Jawa Timur sebelumnya sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) tentang penghentian pencairan dana Jasmas.


(iwd/iwd)