"Hingga sekarang, penderita bertambah menjadi 257 kasus dan 6 diantaranya meninggal dunia," kata Humas Dinkes Jember, Yumarlis, Jumat (30/1/2015).
Menurut yumarlis, pasien meninggal dunia terlambat penanganannya karena orang tua mereka menganggap demam biasa. 6 Pasien berasal dari 5 kecamatan yang ada di Jember diantaranya, Gumukmas 1 orang, Bangsalsari 1 orang, Pakusari 2 orang, Arjasa 1 orang dan Kalisat 1 orang.
"Yang terbaru itu satu pasien di Kecamatan Kalisat masih anak-anak di bawah usia 12 tahun," tambahnya.
Untuk mencegah bertambahnya jumlah penderita, dinkes langsung melakukan fogging pemukiman rumah warga. Apalagi kini telah mendapat bantuan dari dinkes pemprov Jatim berupa peralatan dan obat untuk penanganan seperti misalnya abate.
"Tak hanya fogging, kita juga memberi obat-obatan bantuan dari propinsi Jatim seperti abate ke masing-masing warga di sana," ujarnya.
Meski demikian, Jember belum berstatus kejadian luar biasa (KLB) meski kota tembakau menduduki peringkat nomor dua se Jatim setelah Sumenep jumlah pasien demam berdarah terbanyak.
(fat/fat)










































