Para siswa melakukannya di Jalan Pahlawan. Mereka langsung menyasar para kaum hawa yang sedang berjualan makanan. Mereka adalah para ibu kaum kecil yang bahkan tidak tahu jika ada satu hari yang dikhususkan menjadi hari ibu. Mereka membagi bunga imitasi dalam bentuk pena. Selain itu, mereka juga memijat ibu-ibu tua tersebut.
"Saya malah gak kenal yang namanya hari ibu. Tapi enak juga kalo dipijiti seperti ini," kata Tini, salah seorang penjual minuman ringan kepada wartawan, Senin (22/12/2014).
Ucapan senada juga diamini Raminten, seorang penjual kue. Meski punya anak delapan, tetapi selama ini tak ada satupun yang mengucapkan hari ibu kepadanya.
"Anak saya delapan, cucu 12, dan buyut tiga," ujar Raminten.
Raminten yang baru tahu kalau ada hari ibu, merasa senang karena setidaknya ada satu hari saat para ibu diberi penghargaan khusus. Meski tak berpengaruh terhadap rezekinya, perempuan asal Lamongan ini selalu bersyukur masih bisa menikmati hari ibu.
"Terima kasih sudah diberi cinderamata. Terima kasih juga sudah dipijitin," kata perempuan 75 tahun ini.
Wakil Humas SMA Mujahidin Achmad Suaidi mengatakan, ibu sangat erat kaitannya dengan agama. Nabi Muhammad sendiri tiga kali menyebut ibu setelah itu kemudian bapak. Hal itu menandakan jika ibu adalah penting dan wajib dihormati tidak hanya dalam agama tetapi juga dalam hal segalanya.
"Tahun kemarin kami juga melakukan hal serupa, tetapi terhadap ibu dari masing-masing siswa di sekolah. Kegiatan ini juga merupakan pembelajaran di luar kelas bagi para siswa," ujar Achmad.
(iwd/iwd)











































