Sesaji ini diarak dengan cara dipikul dari balai desa menuju wisata hutan bambu, Sabtu (25/10/2014). Isi sesaji itu diantaranya berupa padi hasil pertanian berupa jagung, sayur mayur, buah-buahan dan kepala sapi.
Hutan bambu yang dihuni ratusan kelelawar, selama ini dianggap keramat oleh warga setempat. Siapa pun yang merusak, warga meyakini akan mendapatkan kesulitan dikemudian har. Karena pandangan itulah tempat tersebut hingga kini tetap terjaga.
Seluruh sesajen kemudian ditata berderet sedemikian rupa. Mbah Tirto sesepuh desa setempat kemudian membakar kemenyan, lalu dilanjutkan dengan membaca mantra dan doa.
Usai doa dipanjatkan, kepala sapi berbalutkan kain kafan kemudian dikubur bersamaan dengan sesajen tumpeng dilarung ke sumber mata air.
"Larung sesajen ini sebagai simbol membuang musibah dan penyakit," kata Heri Gunawan, salah seorang tokoh masyarakat desa setempat.
Usai ritul larung selesai dilakukan, ribuan warga langsung berebut gunungan suro. Tak hanya orang dewasa, ana-anak pun juga ikut berebut hingga mereka harus berdesakan dengan orang dewasa. "Saya tadi sempat berebut dan berdesakan untuk mendapatkan jagung," ungkap Satiyem salah seorang warga.
Tradisi satu suro ini digelar warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, secara turun temurun. Tradisi ini menjadi obyek wisata tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun wisatawan di luar Lumajang.
(bdh/bdh)










































