"Pada Kamis (16/10/2014) malam, dia (Nur) sempat kirim SMS ke saya. Isinya dia pamit pulang karena tidak ada temannya sebab Awi juga pulang," ujar Kasih, pemilik warung, kepada wartawan, Sabtu (18/10/2014).
'Mbak, sepurone aku mulih. Soale ndik kene aku gak onok ewange, soale aku ditinggal Awi mulih (Mbak, maaf saya pulang. Soalnya di sini saya tidak ada teman, soalnya saya ditinggal Awi pulang)'. Begitu SMS yang dikirim Nur ke Kasih pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB.
Tetapi malam itu SMS tersebut tak terbaca Kasih karena dia sudah tidur. Paginya, dia balik SMS ke Nur 'Awakmu mulih karo Awi ta, kok Awi gak ono, soale iki digoleki mandore (Apakah kamu pulang bersama Awi, kok Awi tidak ada, Soalnya ini dicari mandor)'.
SMS pagi itu baru dibalas siang oleh Nur. Isinya, 'Gak eruh mbak, aku mulih mari maghrib. Sepurone mbak, hp ku ngebleng (tidak tahu mbak, saya pulang setelah maghrib, maaf mbak, hp ku ngeblank).
Kasih sendiri awalnya tidak curiga jika kepergian Nur bakal membawa masalah. Setelah kasus ini diketahui, Kasih baru sadar jika Nur pergi meninggalkan rumah itu karena ia baru saja membunuh Awi.
"Padahal mereka makan bareng di sini pada kamis sore sekitar pukul 14.00 WIB," tandas Kasih.
(iwd/iwd)










































