Berikut kronologi kejadian berdasarkan data yang dirilis oleh polisi.
Peristiwa ini sebenarnya berawal pada Jumat (3/10/2014). Saat itu PH sudah berniat membunuh kakeknya. Di Warnet Asmono di Jalan Dukuh Kupang Timur yang menjadi tempat tongkrongannya, PH mengajak seorang temannya, YS, agar membantu melaksanakan niatnya.
Namun YS menolak. PH tak putus asa. Keesokan harinya, Sabtu (4/10/2014) di tempat yang sama, PH mengajak seorang temannya yang lain, VK, untuk membantunya. Namun VK juga menolak. Penolakan dari dua temannya membuat PH tak surut langkah. Dia tetap melaksanakan aksinya.
Satu hari sebelum membunuh, Rabu (8/10/2014), PH berpura-pura datang ke rumah kakeknya. PH memang pernah tinggal bersama kakeknya. Tetapi sejak diusir, remaja 16 tahun itu tinggal bersama ayahnya di kawasan Bogowonto.
Saat mampir ke rumah itu, PH mencari-cari alat yang sekiranya bisa digunakan untuk membunuh kakeknya. PH akhirnya menemukan sepotong kayu sepanjang kurang lebih 45 cm. Kayu keras itu merupakan kayu bekas kakeknya memperbaiki kandang ayam.
Kayu itu kemudian disimpannya. PH lalu tidur di rumah tersebut. PH tidur di selasar kos rumah kakeknya. Rumah Mulyadi memang berlantai dua. Lantai pertama dia tinggali sementara lantai dua dia bangun kos untuk disewakan.
Pagi harinya, Kamis (9/10/2014), pukul 06.00 WIB, PH masuk ke bagian belakang rumah. Dia menunggu kakeknya keluar. PH paham jika kakeknya akan bangun pagi karena setiap pagi Mulyadi selalu mengeluarkan burung perkutut kesayangannya. Setelah setengah jam berlalu, Mulyadi membuka pintu belakang.
Begitu pintu terbuka, PH langsung memukul kakeknya dengan kayu yang dibawanya. Ayunan pertama meleset. Ayunan kedua mengenai tangan korban. Mereka pun berkelahi. Saat bergulat, kaki Mulyadi menyambar ember berisi air.
Mulyadi yang kewalahan masuk ke rumah. Namun kakinya yang basah membuatnya jatuh terpeleset. Kesempatan itu dimanfaatkan PH untuk memukul kepala kakeknya. Tiga pukulan keras membuat Mulyadi terkapar. Tak cukup sampai di situ, PH memukul punggung kakeknya sebanyak 9 kali.
Setelah dipastikan tidak bergerak, PH menyeret tubuh kakeknya ke kamar dan menguncinya. Dengan tenang, PH mengambil HP milik kakeknya. Dan dengan tenang pula ia mengambil kunci motor dan membawa motor Honda Supra X125 nopol L 4434 VM milik kakeknya. Sebelum pergi, PH mengunci pintu rumah dari luar.
Kayu yang digunakan untuk membunuh kakeknya kemudian ia buang ke sungai Kembang Kuning. Selanjutnya dengan santai ia bergabung dengan teman-temannya di Warnet ZX di Jalan Dukuh Kupang. Sore harinya, polisi yang mengetahui keberadaan PH di warnet tersebut segera membekuknya.
(iwd/iwd)











































