Pihak TSI awalnya kesulitan menangkarkan herbivora tersebut. Beberapa kali induk dan pejantan harus ditukar dengan yang ada di Taman Safafi Bali maupun Bogor agar bisa dibreeding.
"Tapir memiliki tingkat stres yang tinggi. Awalnya induk dan pejantan ditaruh di Baby Zoo, begitu kami pindah ke adventure bisa beranak. Mungkin karena suasananya tenang," kata Suhadi, keeper tapir TSI II Prigen, Selasa (7/10/2014).
Anakan tapir tersebut lahir secara normal pada Kamis 2 Oktober lalu, setelah 14 bulan masa kandungan. Saat ini, anakan tersebut masih dalam masa karantina bersama induknya dan akan dilepas pada usia tiga minggu.
"Secara umum perlakuannya sama dengan satwa yang lain. Saat ini masih disusui induknya," jelas Suhadi.
Anak tapir yang baru lahir berwarna belang-belang. Namun saat usianya mencapai 70 hari, warnanya berubah seperti induk dan pejantannya, kombinasi hitam dan putih. Satwa ini banyak ditemui di Sumatera.
Tapir merupakan hewan pemakan dedaunan dan rerumputan dari semak dan pohon kecil. Tapir juga memakan buah-buahan seperti nangka, semangka dan durian. Karena itu Tapir sangat berperan dalam proses regenerasi hutan, pemencaran serta meningkatkan dinamika dan stratifikasi lapisan bawah hutan.
"Umur rata-rata 30-35 tahun. Masa produktif bagi betina pada umur 4 tahun, sedangkan pada jantan bisa lebih awal," pungkas Suhadi.
(fat/fat)











































