"Kejadiannya selepas adzan Dhuhur," kata Sunarti kepada detikcom, Kamis (11/9/2014).
Sunarti menceritakan, saat itu mereka berdua bersama sang buah hati, Muhammad Gentar Jaya Pratama (4), berada di dalam kamar kos Mulyorejo. Mereka ngobrol biasa saja. Karena udara panas, Gentar mengajak ibunya bermain di luar.
Selagi mereka bermain, Ali merokok sambil ngopi di depan pintu. Sedetik kemudian Ali masuk kamar kos. Saat asyik mengajak anaknya bermain di luar kamar, perempuan 38 tahun itu tiba-tiba mendengar suaminya batuk-batuk dengan keras.
"Saya terkejut melihat suami saya sudah bersimbah darah dengan pisau di leher kanannya. Ternyata suami saya batuk karena tusukan pisau itu. Padahal saya meninggalkannya belum ada dua menit," lanjut Sunarti.
Sunarti mengaku saat itu suaminya tengah terbaring di atas tempat tidur. Kemudian Ali berdiri lalu terjatuh ke lantai kamar. Dari leher dan mulutnya terus keluar darah segar. Pisau dapur bergagang hitam itu menusuk masuk hingga pangkal pisau. Saat itu Ali masih hidup.
Melihat itu, Sunarti menangis. Dan dengan ragu-ragu, ia bermaksud mencabut pisau tersebut. Namun pandangannya nanar dan semuanya berubah menjadi hitam. Perempuan 38 tahun itu pingsan. Sunarti siuman saat mendengar anaknya menangis.
"Dengan segera saya peluk anak lalu berteriak meminta tolong," ujar perempuan asal Pacitan tersebut.
Para penghuni kos lain pun segera datang. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa memandangi tubuh Ali yang sudah menjadi mayat. Darah berceceran dan berlumuran membasahi karpet kamar berukuran 2 x 2,5 meter tersebut.
Polisi yang dihubungi pun segera datang dan melakukan proses identifikasi sebelum membawa jenazah Ali ke Kamar Mayat RSU dr Soetomo.
(iwd/fat)










































