Waspadai Jurnalis-jurnalis Palsu

- detikNews
Selasa, 19 Agu 2014 09:11 WIB
Surabaya -

Modus penipuan berkedok sebagai wartawan semakin berani. Bahkan tak hanya menjiplak ID Card Pers, namun sudah berani memalsukan seragam media yang didomplengi.

Misalnya yang terjadi pada Senin (18/8/2014) malam di acara penutupan Asian Fashion Week yang digelar di mal Ciputra World Surabaya.

Seorang pemuda mengenakan baju warna hitam dan terdapat logo Trans Corporation dan Trans7 dengan cukup percaya diri berbaur dengan wartawan lainnya melakukan peliputan.

Kehadiran pemuda itu tentu menjadi pusat perhatian awak media yang lain. Bagaimana tidak lucu, di lokasi yang sama juga terdapat dua jurnalis Trans7, Gancar dan Gita Gowinda. Selain itu yang cukup aneh, pemuda itu di lokasi acara untuk memotret.

Kedua jurnalis Trans7 itu juga tidak mengenal pemuda yang mengenakan seragam kebesaran medianya. Kebetulan, di lokasi juga ada Kepala Biro detikcom Biro Jawa Timur Budi Sugiharto. Lantas pemuda digelandang seorang fotografer keluar dari lokasi acara untuk diinterogasi.

Dia mengaku mahasiswa dari universitas swasta di Jalan Semolowaru. "Kamu wartawan Trans7," tanya Budi Sugiharto. "Bukan, saya dulu pernah magang di Jakarta," jawab pemuda yang namanya berinisial 'DAK' ini.

Setelah diberondong pertanyaan akhirnya dia mengaku bila baju 'Trans7' yang dikenakan berasal dari kawannya yang kebetulan juga datang ke lokasi. "Ini baju kawan saya," kilahnya.

Setelah dipertemukan, kawan DAK ini mengaku mendapat baju dari seseorang yang bernama Puji di Malang. "Saya kenal di Facebook dan ditawari mau kerja di Trans7, kalau mau beli bajunya Rp 200 ribu," kata kawan DAK yang bernisial RWIS itu.

Baju hitam yang dikenalkan DAK itu nyaris mirip dengan seragam asli Trans7. Hanya saja, bordirnya terlihat kasar dan warna logo Trans7 berbeda dengan aslinya.

Pemuda yang tinggal di Sedati ini mengaku percaya dengan orang yang bernama Puji itu. "Saya pernah disuruh nulis tentang cokelat dan saya serahkan naskahnya," kata RWIS.

Setelah panjang lebar dimintai keterangan, kedua pemuda itu akhirnya dilepas. Namun, KTP keduanya telah difoto. Dan seragam 'Trans7' palsunya langsung dicopot dan diserahkan ke jurnalis Trans7 yang asli saat itu juga.

"Saya minta maaf, jangan laporkan saya ke polisi Pak. Berarti saya ini tertipu juga," kata DAK dengan nada memelas.

Sementara Kepala Biro Trans7 Jawa Timur Dodik Puji Rahardjo cukup kaget mendengar tertangkapnya jurnalis abal-abal itu.

"Ini temuan menarik, sangat mungkin pelaku yang bernama Puji itu telah memperdayai banyak korban dengan modus rekruitmen. Tidak ada rekruitmen dengan harus membeli baju," kata Dodik di Kantor Transmedia Biro Jatim, Jl Opak 12 Surabaya, Selasa (19/8/2014).

Dodik mengimbau kepada masyarakat dan narasumber untuk tidak mudah percaya dengan orang yang mengaku jurnalis dari medianya. "Silakan ditanya identitas untuk membuktikan keasliannya. Apalagi kalau meminta uang, silakan diamankan dan laporkan," kata Dodik.

(gik/gik)