Sopir remaja ini termasuk salah satu korban luka parah. Kaki kirinya patah dan ia masih mengalami trauma thorax serta beberapa luka lebam di sekujur tubuhnya.
"Kaki kiri patah, trauma thorax buat dadanya sulit bernapas dan kita masih harus periksa apakah mengalami geger otak atau tidak. Karena dia (Asep) sempat bilang terasa mual dan pusing," terang Wulan, salah satu perawat RS Muhammadiyah, Rogojampi kepada detikcom sambil memberikan perawatan ke Asep, Senin (18/8/2014).
Asep merupakan sopir remaja laka tunggal pikap Grand Max hitam dengan nopol DK 9950 AN. Ia dan 17 rekannya merupakan tim pemain serta suporter sepakbola forsa plus official asal Kecamatan Sempu. Mereka berangkat dari Desa Temuguruh dan niat bertanding di Kecamatan Wongsorejo.
Sesaat sebelum terjadi laka, mobil naas yang dikendarainya berjalan cukup kencang dan hendak menyalip motor yang ada di depannya. Namun dari arah berlawanan muncul pengendara motor lain. Kecelakaan yang terjadi begitu cepat membuat 2 penumpang yang berada di bak terpental keluar.
Dua penumpang yang meninggal dunia kini sudah dibawa keluarganya dan dikebumikan. Sementara belasan luka berat dan ringan lainnya hingga kini masih dirawat di beberapa unit kesehatan.
"Pikap Grand Max muat pemain bola 17 orang dan 1 sopir. Dua orang meninggal dunia, luka berat 4 orang, luka ringan 8 dan tanpa luka 4 orang," tandas Kasatlantas Banyuwangi, AKP Ammar Hadi.
(fat/fat)











































