Akibat belum adanya buku pelajaran, seluruh sekolah baik di tingkat SD/MI hingga SMU/MA terpaksa harus menggunakan cara lain seperti fotocopy pelajaran per bab, hingga membagikan modul CD pelajaran supaya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Menurut keterangan dari pihak Kementerian Pendidikan di kabupaten Bojonegoro, terlambatnya pendistribusian buku paket dari pusat ini dikarenakan amburadulnya proses percetakan yang dilakukan oleh rekanan. Sehingga berdampak hingga ke tingkat kabupaten.
"Ini sebenarnya karena proses lelang pembuatan buku yang ada kendala. Sehingga terlambat pendistribusiannya," terang Kusnul Kuluq, Kepala Kemendikbud Bojonegoro kepada detikcom di kantornya, Jumat (8/8/2014).
Ditambahkan olehnya saat ini diharapkan pihak sekolah tidak memungut biaya kepada siswanya untuk fotocopy/penggandaan buku pelajaran dari modul CD yang telah dibagikan. Karena sudah ada dana Biaya Operasional Sekolah (BOS).
Selain itu, jika buku paket yang didroping dari pusat nantinya datang, juga akan dibayar menggunakan dana BOS oleh pihak sekolah. Mantan sekda Kabupaten Gresik ini juga telah mendengar banyak sekolah menggunakan buku pelajaran berbasis K 13 yang dicetak oleh penerbit lain. "Boleh saja, asal hanya sekedar untuk referensi guru, sambil menunggu buku paket dari pusat turun," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































