Namun sayang, hal itu sudah tak dijumpai lagi dalam tradisi ini. Dari tahun ke tahun, sky lot hanya jalan di tempat, bahkan animo masyarakat cenderung menurun untuk menyaksikan. Pesertanya juga terus menurun.
Hal itu terklihat saat digelarnya skilot di areal tambak di Desa Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (4/8/2014). Acara ini hanya diikuti oleh 50 peserta, yang hanya berasal dari Kecamatan Lekok saja. Padahal beberapa tahun lalu, skilot bisa diikuti ratusan peserta dari berbagai kecamatan bahkan luar daerah. Pun begitu, animo warga yang melihat terus menurun.
"Pada akhir 1990-an, pesertanya dari berbagai kecamatan. Tapi jika mereka kalah panitia kerap diprotes hingga mendatangkan keributan. Sejak tahun 2000-an, peserta dibatasi dari Kecamatan Lekok saja," ujar M Aqib, Ketua Panitia Skilot.
Skilot mulai diperkenalkan sekitar 15 tahun lalu. Awalnya lomba ini tak hanya diikuti oleh para nelayan di Kecamatan Lekok saja. Masyarakat di sepanjang pesisir pantai di Kabupaten Pasuruan seperti dari Kecamatan Kraton, Nguling, Rejoso dan lainnya, ikut berpartisipasi menjadi peserta. Bahkan warga pesisir Tongas , Kabupaten Probolinggo ikut berpartisipasi.
Tradisi ini berawal dari kebiasaan nelayan di pesisir pantai Kabupaten Pasuruan saat mencari kerang di pinggiran laut. Menggunakan papan berukuran panjang 1 meter dan lebar sekitar 40 cm, warga meluncur di atas lumpur pantai untuk memunguti kerang.
Karena pekerjaan tersebut dilakukan bersama-sama, lambat laun tanpa disadari mereka sering berlomba dan beradu cepat untuk memungut kerang sebanyak-banyaknya. Adu cepat ini membuat badan mereka berotot dan meningkatkan stamina. Hal itulah yang mendatangkan kebanggaan.
Dalam perkembangannya, saat keluarga para nelayan dari berbagai kecamatan berkunjung pada hari-hari tertentu seperti waktu lebaran, kebiasaan untuk berloma meluncur di lumpur pantai ini terus dilakukan.
"Akhirnya sejak 1985, skilot dilombakan dan menjadi tradisi tersendiri yang menyedot banyak pengunjung. Tujuannya untuk memupuk dan meningkatkan ikatan silaturahmi dari keluarga nelayan," kata M Aqib.
Pada saat itu, Pemkab Pasuruan melihat perkembangan skilot sebagai sebuah event tradisional yang unik dan menarik. Hingga akhirnya event tersebut dikembangkan menjadi salah satu paket pariwisata bahari.
Namun akhir-akhir ini perhatian pemerintah daerah semakin berkurang. Pembatasan peserta karena dikhawatirkan memicu keributan tak diimbangi dengan terobosan dan ide-ide kreatif agar lomba ini tetap semarak dan bisa menyedot perhatian penonton. Akhirnya, tradisi ini hanya bisa bertahan tanpa bisa berkembang. Tujuan menjadikannya paket wisata bahari tak terwujud.
Saat ini, Pemkab Pasuruan terkesan tak mempedulikan lagi tradisi unik tersebut. Bukan hanya Bupati pasuruan, M Irsyad Yusuf, yang tak hadir, event pariwisata ini bahkan tak dihadiri Kepala Dinas Pariwisata, Tri Yulianto.
Lomba skilot terdiri dari kategori pria untuk dewasa dan anak-anak serta untuk putri dengan memperebutkan berbagai hadiah menarik seperti televisi, sepeda gunung dan lainnya.
(fat/fat)











































